Rekening BRI Dosen Unsrat Ludes Rp49 Juta, Pelaku Mengaku DJP Tanjung Batu! Pihak Bank Tidak Tanggung Jawab

photo author
Dedy Dagomes Manlesu, Sulut Zone
- Sabtu, 24 Januari 2026 | 02:45 WIB
Dosen Unsrat Manado, Agus Supandi Soegoto (Dok. Istimewa)
Dosen Unsrat Manado, Agus Supandi Soegoto (Dok. Istimewa)


MANADO, SULUTZONE.COM
– Nasib nahas menimpa Agus Supandi Soegoto, seorang dosen di Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado. Uang senilai Rp49.022.377 yang tersimpan di rekening BRI miliknya raib seketika setelah menerima telepon dari oknum yang mengaku petugas pajak.

Peristiwa yang menguras tabungan berisi gaji dan dana penelitian tersebut kini berbuntut panjang setelah pihak BRI menolak permintaan pengembalian dana nasabah.

Kronologi Kejadian: Manipulasi Berkedok Pajak

Kejadian bermula saat Agus menerima telepon dari orang tak dikenal yang mengaku sebagai personel DJP Tanjung Batu. Pelaku meminta Agus membayar bea meterai melalui sebuah aplikasi. Meski Agus sempat menolak, pelaku terus menekan dengan ancaman penalti sebesar 70% dari saldo rekening.

"Saya katakan tidak mau dipenalti karena ini hanya bicara bea meterai. Tiba-tiba pelaku bilang karena saya tidak kooperatif, maka dana Rp49 juta sudah diambil. Benar saja, muncul notifikasi SMS Banking bahwa dana keluar," ujar Agus kepada awak media.

Panik melihat saldo terkuras, Agus segera mematikan ponsel dan mendatangi kantor BRI untuk memblokir rekening serta mengecek sisa saldonya.

Baca Juga: Geger! Oknum Stafsus Bupati Bolmong Diduga Kelola Judi Sabung Ayam dan Intimidasi Wartawan

Kecewa Pelayanan dan Bantahan Korban

Upaya Agus untuk mendapatkan kembali haknya terasa berbelit-belit. Mulai dari kendala administrasi saat menghubungi Call Centre hingga diarahkan melapor via email oleh pihak BRI Unsrat. Namun, jawaban tertulis dari BRI justru mengecewakan.

Pihak BRI menyatakan bahwa berdasarkan hasil investigasi, Agus menjadi korban modus Social Engineering (manipulasi psikologis), sehingga bank tidak bisa mengganti kerugian tersebut.

Agus dengan tegas membantah tudingan tersebut. Ia merasa menjadi korban kejahatan skimming atau pembobolan sistem, bukan kesalahan prosedur yang ia lakukan.

"BRI menyebut ini Social Engineering, tapi saya tidak pernah menerima tawaran perubahan tarif, akun palsu, atau menjadi nasabah prioritas. Anehnya lagi, pemindahan dana dilakukan melalui aplikasi BRImo, padahal selama ini saya tidak pernah menggunakan atau mengaktifkan BRImo," ungkapnya heran.

Tanggung Jawab Keamanan Bank Dipertanyakan

Sebagai akademisi, Agus menegaskan bahwa uang yang hilang bukan sekadar tabungan pribadi, melainkan dana penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) yang harus dipertanggungjawabkan secara kontrak.

"Itu gaji dan uang penelitian. Harusnya tanggung jawab keamanan ada di BRI sebagai penyedia jasa perbankan, bukan dibebankan kepada nasabah. Ini murni pembobolan sistem," tegas Agus.

Baca Juga: Sudah 19 Tahun Lamanya Aksi Kamisan di Depan Istana Negara, Musisi Baskara Putra Nilai Tuntutan Kasus HAM Perlu Terus Disuarakan

Edukasi: Mengenal Modus Social Engineering

Pihak BRI sendiri dalam tanggapannya tetap mengimbau masyarakat untuk waspada terhadap teknik manipulasi yang menyasar informasi pribadi seperti OTP, PIN, dan Password. Beberapa modus yang sering terjadi meliputi:

  • Info perubahan tarif transfer bank yang tidak wajar.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Dedy Dagomes Manlesu

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X