MANADO — Laju inflasi di Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) pada bulan Agustus 2026 tercatat mengalami tren kenaikan. Berdasarkan data resmi Badan Pusat Statistik (BPS) Sulut, terjadi inflasi bulanan (month-to-month/m-to-m) sebesar 0,29 persen pada Agustus 2026, berbalik dari bulan Juli 2026 yang sempat mengalami deflasi sebesar -1,05 persen.
Sementara itu, inflasi tahun kalender (year-to-date/y-to-d) tercatat berada di angka 3,68 persen, dan tingkat inflasi tahunan (year-on-year/y-on-y) mencapai 3,99 persen.
Komoditas Pemicu dan Penahan Inflasi
Kenaikan inflasi pada Agustus 2026 ini didominasi oleh kelompok volatile food (gejolak harga pangan). Komoditas utama pendorong inflasi m-to-m di Sulut antara lain:
-
Cabai Rawit: Memberikan andil inflasi sebesar 0,33 persen.
-
Kangkung: Memberikan andil inflasi sebesar 0,14 persen.
-
Angkutan Udara: Memberikan andil inflasi sebesar 0,09 persen akibat penyesuaian tarif pasca-periode liburan sekolah.
Di sisi lain, laju inflasi berhasil tertahan oleh penurunan harga pada komoditas tomat yang memberikan andil penahan terbesar hingga -0,48 persen, disusul bawang merah (-0,07 persen) dan bawang putih (-0,06 persen) berkat melimpahnya pasokan dari daerah sentra produksi.
Secara wilayah pencatatan Indeks Harga Konsumen (IHK), Kabupaten Minahasa Utara mencatatkan inflasi m-to-m tertinggi sebesar 0,92 persen, sedangkan Kota Manado menjadi wilayah dengan inflasi y-on-y tertinggi sebesar 4,21 persen.
Baca Juga: El Nino Picu Infalsi Bulanan 0,29 persen di Sulut, Gerdi Worang : Itu Hal Biasa
Tanggapan Pengamat Ekonomi Sulut, Magdalena Wulur
Menanggapi dinamika pergerakan harga tersebut, Pengamat Ekonomi Sulut, Magdalena Wulur, memberikan analisanya. Menurutnya, pergerakan inflasi Sulut pada bulan Agustus ini masih didominasi oleh faktor musiman dan pasokan pangan harian.
"Kalau kita lihat di bulan Agustus ini, inflasi didominasi oleh volatile food, terutama cabai rawit dan kangkung akibat kemarau yang menekan hasil panen dan pasokan. Ini adalah pola musiman klasik, bukan tekanan struktural," jelas Magdalena Wulur.
Magdalena juga menyoroti adanya fenomena tarik-menarik harga komoditas hortikultura di wilayah Sulawesi Utara.
"Harga pangan di Sulut sedang tarik-menarik. Komoditas yang gagal panen seperti cabai dan kangkung menaikkan harga, tetapi di sisi lain ada surplus pasokan pada tomat dan bawang. Secara tahunan (y-on-y), selain pangan, biaya konektivitas seperti angkutan udara serta aset non-pangan seperti emas perhiasan turut mendorong laju inflasi Sulut berada di atas rata-rata biasanya," tambahnya.
Mengantisipasi pergerakan ekonomi hingga akhir tahun, Magdalena memperkirakan potensi kenaikan inflasi di triwulan IV akan kembali ditopang oleh sektor transportasi seiring tingginya mobilitas masyarakat pada periode libur Natal dan Tahun Baru.
Artikel Terkait
Tolak Tawaran Gaji Besar Arsenal, Vinicius Jr Pilih Setia Bersama Real Madrid Sampai 2031
Takehiro Tomiyasu Kembali ke Premier League, Segera Gabung Crystal Palace Gratisan
Ketajaman Analisis Anggaran: Sekda Yohanis Kamagi Pimpin Rapat Pembahasan RKA Perubahan 2026 untuk Pastikan Program Tepat Sasaran
Perang Harga €60 Juta, Rodri Bikin Barcelona dan Real Madrid Saling Sikut di Bursa Transfer
Tragedi Yurizaltrich: Curhat Pasien BPJS Menunggu 8 Jam di RS Berakhir Duka, Sorotan Etika Nakes Memanas
Jalan Dan Mogot, Ahmad Yani dan Samrat Kini Diurus Pemkot Manado : Semoga Tidak Ada Lubang Lagi
El Nino Picu Infalsi Bulanan 0,29 persen di Sulut, Gerdi Worang : Itu Hal Biasa
Personel Koramil 1312-01/Kabaruan Dikerahkan Penuh, Gotong Royong Cor Jembatan Penghubung Desa Damau dan Damau Bowone
Koramil 1312-01/Kabaruan Aktif Mendampingi Warga, Babinsa Desa Ighik Bantu Pembuatan Boplang dan Papan Maal Fondasi Rumah
FK Kembali Jadi Sorotan Netizen Sulut, Tuduhan Dan Fitnah Terhadap 3 Pekerja Tambang Tokin