WASHINGTON/CARACAS, SULUTZONE.COM – Dunia internasional digemparkan oleh tindakan militer Amerika Serikat (AS) yang melakukan serangan skala besar ke Venezuela dan menangkap Presiden Nicolas Maduro beserta istrinya pada Sabtu pagi.
Operasi gabungan antara pasukan militer dan lembaga penegak hukum Amerika ini diumumkan langsung oleh Presiden Donald Trump melalui platform Truth Social.
Ketegangan yang meningkat selama berbulan-bulan ini berakhir dengan manuver kilat yang menerbangkan pemimpin Venezuela tersebut keluar dari negaranya dalam sebuah operasi yang diklaim sebagai upaya pemberantasan narkoba, penghentian arus migrasi, dan pembelaan keamanan nasional.
Baca Juga: Mahfud MD Cium Aroma 'Kekacauan' Politik 2027? Desak UU Pemilu Segera Dirombak Total, Ini Alasannya!
Pemerintah Amerika Serikat berdalih bahwa serangan ini adalah bagian dari perang melawan narkoba di mana Trump menuduh Venezuela merupakan jalur transit utama kokain serta penyumbang krisis fentanyl di AS.
Trump bahkan menetapkan dua entitas kriminal, yakni Tren de Aragua dan Cartel de los Soles sebagai Organisasi Teroris Asing dengan tuduhan bahwa Maduro sendiri yang memimpin kartel tersebut.
Selain masalah narkoba, Trump juga mengaitkan serangan ini dengan masalah migrasi dengan menuduh Maduro sengaja memaksa narapidana dari penjara dan rumah sakit jiwa untuk bermigrasi ke Amerika Serikat, meskipun klaim tersebut ditolak mentah-mentah oleh pihak Caracas.
Baca Juga: Besok, Massa Gelar Aksi Solidaritas Melawan Pelecehan Seksual di Kantor Pusat Unima
Di sisi lain, pihak Venezuela memiliki pandangan yang sangat berbeda terkait motif serangan ini.
Presiden Nicolas Maduro sebelum penangkapannya menegaskan bahwa tujuan sebenarnya dari Washington dalam melakukan serangan ini adalah untuk melakukan perubahan rezim demi merebut cadangan minyak terbesar di dunia yang dimiliki oleh Venezuela.
Maduro membantah perannya sebagai pemimpin kartel narkoba dan justru menunjuk pada tawaran kerja sama dalam perdagangan narkoba serta migrasi yang sempat dibuat beberapa hari sebelum serangan militer itu terjadi.
Situasi di lokasi serangan, tepatnya di Caracas, dilaporkan sangat mencekam dengan adanya ledakan singkat yang keras, pemadaman listrik di sekitar instalasi militer, serta pesawat terbang rendah.
Video yang telah diverifikasi menunjukkan adanya tembakan peluru dan kepulan asap di atas kota serta beberapa lokasi pesisir lainnya.
Artikel Terkait
Babinsa Koramil 1312-01/Kabaruan Gelar Kegiatan Ibadah Mingguan Pertama Tahun 2026 Bersama Warga
Macan Tutul Jawa Nyaris Punah, Manusia Kini Bersiap Menanggung Akibatnya!
Suara Hati Bocah Aceh Tamiang di Balik Tragedi 1.167 Nyawa: Pak Prabowo, Bangun Kembali Sekolah dan Rumah Kami!
Punya Potensi Wisata Kesehatan Kelas Dunia, Gubernur Yulius Selvanus Komaling Optimis Sumaru Endo Bakal Jadi Kebanggaan Baru Sulut!
Mahfud MD Cium Aroma 'Kekacauan' Politik 2027? Desak UU Pemilu Segera Dirombak Total, Ini Alasannya!
Polresta Manado Luruskan Isu Viral Salah Paham Polri dan Komcad di Kombos Timur, Pastikan Sinergitas TNI-Polri Tetap Solid
Polresta Manado Klarifikasi Dugaan Tindakan Tidak Humanis di Sumompo, Oknum Resmob Diperiksa Propam
Jamin Keamanan Ibadah, Babinsa Koramil 06 Nanusa Kawal Persekutuan Minggu di Gereja Sion Marampit
Sinergitas TNI-Polri di Essang: Kawal Ibadah Minggu Perdana 2026 dengan Aman dan Kondusif
Besok, Massa Gelar Aksi Solidaritas Melawan Pelecehan Seksual di Kantor Pusat Unima