Suara Hati Bocah Aceh Tamiang di Balik Tragedi 1.167 Nyawa: Pak Prabowo, Bangun Kembali Sekolah dan Rumah Kami!

photo author
Dedy Dagomes Manlesu, Sulut Zone
- Minggu, 4 Januari 2026 | 14:16 WIB
Seorang anak di Aceh Tamiang menceritakan detik-detik banjir bandang menerjang rumahnya. (Instagram/fahriibrochim) (Instagram/fahriibrochim)
Seorang anak di Aceh Tamiang menceritakan detik-detik banjir bandang menerjang rumahnya. (Instagram/fahriibrochim) (Instagram/fahriibrochim)


sulutzone.com -
Kenangan pahit di penghujung November 2025 masih terpatri kuat dalam ingatan para penyintas banjir bandang yang meluluhlantakkan tiga provinsi di Sumatera. Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat kini menyisakan luka kolektif setelah terjangan air dan tanah longsor mengubah lanskap pemukiman menjadi hamparan puing. Di awal masa pascabencana, isolasi menjadi musuh kedua bagi para warga; akses jalan yang terputus membuat bantuan logistik terhambat, memaksa mereka bertahan hidup di tengah keterbatasan yang ekstrem. Di tengah duka tersebut, sebuah cerita menyentuh muncul dari seorang anak di Desa Sukajadi, Aceh Tamiang, wilayah yang menjadi titik nol kehancuran paling parah di tanah rencong.

Tragedi itu datang menyergap di saat warga baru saja menyelesaikan sujud Subuh. Suasana tenang jam lima pagi seketika berubah mencekam ketika guncangan hebat terasa hingga ke dalam rumah. Saat pintu dibuka, air bah sudah mengepung pemukiman dengan kecepatan yang tak terbayangkan. Dalam kepanikan luar biasa, bocah tersebut mengisahkan bagaimana keluarganya hanya sempat berpikir untuk menyelamatkan nyawa nenek mereka ke tempat yang lebih tinggi. Harta benda, dokumen penting, dan perlengkapan rumah tangga terpaksa ditinggalkan untuk ditelan arus karena ketinggian air naik dalam hitungan detik, menyisakan hanya pakaian di badan sebagai satu-satunya milik yang tersisa.

Kondisi pascabanjir berubah menjadi perjuangan hidup mati melawan rasa lapar. Kelaparan yang mencekam sempat memicu keputusasaan warga hingga beberapa orang terpaksa menerobos minimarket demi menyambung nyawa karena bantuan logistik belum mampu menembus medan yang hancur. Selama berhari-hari, para pengungsi hanya bisa menggantungkan nasib pada kiriman bantuan yang tiba setetes demi setetes. Kini, melalui sebuah pesan video yang menyayat hati, bocah tersebut menitipkan harapannya kepada Presiden Prabowo Subianto agar desanya tidak dilupakan. Ia merindukan sekolahnya yang hancur dan rumahnya yang rata dengan tanah kembali berdiri, agar tawa anak-anak di Kampung Sukajadi bisa terdengar seperti sedia kala.

Skala bencana ini memang tidak main-main. Data terbaru dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 4 Januari 2026 mencatat angka kematian yang mengerikan, yakni sebanyak 1.167 orang kehilangan nyawa di seluruh Sumatera. Aceh menanggung duka terdalam dengan 540 korban jiwa, disusul Sumatera Utara dengan 365 jiwa, dan Sumatera Barat 262 jiwa. Lebih dari 178 ribu rumah warga rusak berat, sementara ribuan fasilitas pendidikan, kesehatan, dan rumah ibadah hancur total. Dengan 34 jembatan yang terputus, pemulihan Sumatera bukan sekadar soal membangun infrastruktur, melainkan tentang memulihkan harapan jutaan orang yang kini hanya bisa memandang puing-puing masa lalu mereka.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Dedy Dagomes Manlesu

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Presiden Prabowo Dikabarkan Kunjungi Sulut

Jumat, 8 Mei 2026 | 09:38 WIB
X