Selat Hormuz Ditutup Iran, Ancaman Serius bagi Ekonomi Global dan Indonesia

photo author
Marlon Mondong, Sulut Zone
- Senin, 2 Maret 2026 | 19:49 WIB
Peta Jalur Selat Hormuz (Marlon/Sulutzone)
Peta Jalur Selat Hormuz (Marlon/Sulutzone)

Sulutzonecom -- Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas setelah Iran mengambil langkah tegas dengan membatasi aktivitas pelayaran di Selat Hormuz. Situasi ini terjadi menyusul konflik dengan Amerika Serikat dan Israel yang meningkat dalam beberapa hari terakhir.

Selat Hormuz merupakan jalur laut strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan laut lepas dan menjadi salah satu titik paling vital dalam distribusi energi dunia. Sekitar 20 persen pasokan minyak global atau hampir 20 juta barel per hari melewati jalur ini. Gangguan di wilayah tersebut langsung berdampak pada pasar energi internasional.

Laporan Reuters, The Guardian, dan Wired menyebutkan bahwa aktivitas pelayaran di kawasan tersebut mengalami penurunan signifikan. Sejumlah kapal tanker dilaporkan tertahan, sementara perusahaan pelayaran mulai menghindari jalur tersebut karena alasan keamanan.

Dampak langsung terlihat pada harga minyak dunia yang melonjak tajam. Dalam satu hari, harga minyak naik lebih dari 10 persen dan berpotensi terus meningkat jika situasi tidak segera mereda. Analis memperkirakan harga bisa menembus di atas 100 dolar AS per barel apabila gangguan berlangsung lama.

Selain itu, gangguan Selat Hormuz juga memicu efek domino terhadap rantai pasok global. Biaya logistik meningkat karena kapal harus mencari jalur alternatif yang lebih jauh dan mahal. Kondisi ini berpotensi mendorong kenaikan harga barang secara global.

Pasar keuangan juga ikut tertekan. Ketidakpastian geopolitik menyebabkan fluktuasi di pasar saham dan meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global, terutama karena kenaikan harga energi berdampak langsung pada biaya produksi.

Bagi Indonesia, dampaknya tidak bisa dihindari. Sebagai negara yang masih bergantung pada impor minyak, kenaikan harga minyak dunia akan berpengaruh terhadap harga bahan bakar dalam negeri. Selain itu, biaya impor dan distribusi barang juga berpotensi meningkat.

Kontan melaporkan bahwa gangguan di Selat Hormuz dapat memicu kenaikan biaya logistik dan tekanan terhadap perdagangan nasional. Jika kondisi ini berlangsung lama, dampaknya bisa meluas ke inflasi dan daya beli masyarakat.

Selat Hormuz selama ini dikenal sebagai salah satu chokepoint energi dunia. Tidak banyak jalur alternatif yang mampu menggantikan perannya dalam waktu singkat. Oleh karena itu, setiap gangguan di wilayah ini selalu menjadi perhatian utama pasar global.

Jika konflik terus berlanjut, risiko krisis energi dan perlambatan ekonomi global semakin besar. Dunia kini menunggu apakah situasi akan mereda atau justru berkembang menjadi krisis yang lebih luas.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Marlon Mondong

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X