Sulutzone.com -- Perang antara Israel dan Hamas yang berlangsung sejak 7 Oktober 2023 akhirnya mencapai titik gencatan senjata mulai 19 Januari 2025. Di balik kesepakatan ini, beban ekonomi yang sangat besar bagi Israel menjadi salah satu faktor penting.
Menurut laporan surat kabar bisnis Israel, Calcalist, yang mengutip perkiraan Bank Israel, perang telah menelan biaya setidaknya 250 miliar shekel (Rp1.106 triliun) hingga akhir 2024. Angka ini mencakup biaya militer langsung, pengeluaran sipil, dan hilangnya pendapatan, namun belum mencakup dampak finansial secara keseluruhan. Laporan tersebut menyebut biaya ini sebagai "beban berat" dan mengkritik "kegagalan" upaya perang, yang menyoroti kebutuhan peningkatan anggaran pertahanan Israel secara signifikan dalam dekade mendatang.
Beban anggaran ini memicu perdebatan internal di Israel, terutama mengenai realokasi pendapatan dari sumber daya gas alam di Mediterania, yang awalnya dialokasikan untuk kesehatan dan pendidikan, kini dialihkan ke pengeluaran pertahanan. Komite Nagel merekomendasikan tambahan 275 miliar shekel (Rp1.220 triliun) untuk pertahanan selama sepuluh tahun ke depan, dengan peningkatan tahunan sebesar 27,5 miliar shekel (Rp114 triliun). Dana ini rencananya akan digunakan untuk memperkuat sistem pertahanan udara, termasuk Iron Dome dan sistem laser, serta memperketat keamanan perbatasan Lembah Yordan.
Baca Juga: Infeksi Jamur di Kulit Kepala, 150 Orang di India Alami Kebotakan dalam 3 Hari !
Gencatan senjata ini diharapkan berdampak positif bagi peringkat kredit Israel yang sebelumnya tertekan. Lembaga pemeringkat Fitch sebelumnya memberikan prospek negatif pada peringkat "A" Israel karena kekhawatiran terkait keuangan publik akibat perang. Kepala peringkat negara Fitch, James Longsdon, menyatakan bahwa stabilisasi situasi akan berdampak positif pada peringkat kredit Israel. Biaya perang yang besar selama 15 bulan terakhir telah menyebabkan penurunan peringkat Israel oleh beberapa lembaga pemeringkat utama.
Analis di Capital Economics memperkirakan gencatan senjata akan berdampak "sangat positif" pada keuangan publik Israel. Mereka mencatat bahwa pengeluaran pertahanan Israel meningkat hingga hampir 9% dari PDB tahun lalu, jauh di atas rata-rata tahun 2010-an. Pengurangan belanja militer, pemulihan ekonomi, peningkatan pendapatan pajak, dan langkah-langkah pengetatan fiskal diharapkan dapat mempersempit defisit anggaran Israel, yang mencapai 7% dari PDB tahun lalu, menjadi mendekati 4% tahun ini, dan mengembalikan rasio utang publik ke jalur penurunan mulai 2026.
Meskipun demikian, ketidakpastian masih membayangi. Perdana Menteri Netanyahu memperingatkan bahwa Israel akan kembali berperang jika negosiasi fase kedua kesepakatan gencatan senjata dan pertukaran tahanan gagal. Ketegangan politik internal juga masih ada, dengan beberapa anggota kabinet yang mendukung kelanjutan perang.
Kesepakatan gencatan senjata ini merupakan langkah penting, namun dampak ekonomi dan politik jangka panjangnya masih perlu dilihat.
Artikel Terkait
Kasat Binmas Polresta Manado Sambangi Pengurus POKDAR Kamtibmas Sulut dan Kota Manado
Respon Cepat Aduhan Masyarakat Melalui Call Center 110/112, Personel Polsek Mapanget Amankan Pelaku Pencurian
PGE Dukung Pengembangan Pertanian Berkelanjutan melalui Penyemprotan Pupuk Booster Katrili pada Tanaman Padi Petani Lokal di Tomohon
Perusahaan di Manado Terancam Sanksi Pidana Akibat Gaji di Bawah UMP, Kasus Millenium Babies and Kids Jadi Sorotan
Tawuran Berdarah Kembali Pecah di Bitung, Fasilitas Umum Rusak, Warga Resah
Remaja 15 Tahun di Bitung Ditangkap Polisi Usai Jual Sajam di TikTok, Sempat Tantang Polisi di Medsos
Keindahan Tersembunyi Pantai Permisan, Surga Alami di Pulau Nusakambangan
70 Persen Warga Indonesia Tak Punya Tabungan, Tantangan Ekonomi Keluarga Semakin Berat
CERPEN : Dari Asrama Kodam ke Dunia Jurnalisme: Kisah Inspiratif Mengejar Mimpi di Tengah Keterbatasan
Cerpen : Di Balik Gemerlap Sekolah Top: Kisah Seorang Anak Tukang Ojek yang Bersinar di Panggung Seni