"Kita boleh berbeda dalam iman, tetapi kita memiliki panggilan kemanusiaan yang sama untuk menjaga Tanah Papua. Kehadiran IRI sangat penting karena membekali para pemuka agama dengan pengetahuan dan jejaring untuk ikut menjadi pelindung hutan hujan tropis Papua. FKUB Kabupaten Sorong mendukung penuh gerakan ini."
*Deklarasi Komitmen Lintas Iman dan Dorongan Pengesahan RUU Masyarakat Adat*
Komitmen tersebut kemudian ditegaskan melalui penandatanganan Pernyataan Komitmen Lintas Iman Papua Barat Daya yang menjadi tonggak lahirnya gerakan bersama menjaga hutan Papua. Dalam deklarasi tersebut, para pemimpin agama, pemerintah, masyarakat adat, akademisi, organisasi masyarakat sipil, perempuan, dan pemuda bersepakat memperkuat persaudaraan lintas iman, menjaga hutan Papua sebagai rumah bersama, menghormati dan memperkuat hak-hak masyarakat adat, mendorong pendidikan serta kampanye ekologi lintas iman, membangun kolaborasi multipihak, dan menjadikan Chapter IRI Indonesia Papua Barat Daya sebagai ruang dialog, pembelajaran, dan aksi bersama yang berkelanjutan.
Deklarasi tersebut juga dilengkapi dengan Lampiran Komitmen Bersama yang memuat sejumlah agenda strategis, mulai dari penguatan pendidikan ekologi lintas iman, kampanye publik, dialog kebijakan, hingga pengembangan aksi kolaboratif untuk melindungi hutan Papua.
Selain itu, para peserta juga menyepakati rekomendasi untuk mendorong pemerintah dan DPR RI segera mengesahkan Rancangan Undang-Undang Masyarakat Adat sebagai landasan hukum yang memberikan kepastian pengakuan, perlindungan, dan penghormatan terhadap hak-hak masyarakat adat beserta wilayah adatnya. Menurut para peserta, perlindungan hutan Papua tidak dapat dipisahkan dari pengakuan terhadap masyarakat adat yang selama berabad-abad menjadi penjaga utama bentang hutan tropis Papua melalui pengetahuan, budaya, dan nilai-nilai spiritual yang diwariskan lintas generasi.
*Iman, Sains, dan Masyarakat Adat Dipertemukan*
Peluncuran Chapter IRI Papua Barat Daya tidak berhenti pada seremoni. Kegiatan dilanjutkan dengan Science Immersion Fellowship selama tiga hari yang mempertemukan perspektif sains, agama, dan masyarakat adat dalam membaca masa depan hutan Papua.
Pada hari pertama, Kepala Stasiun Pemantau Atmosfer Global BMKG Sorong Budi Satrio memaparkan bagaimana perubahan iklim telah meningkatkan suhu udara dan memengaruhi pola cuaca di Papua. Ia menegaskan bahwa perubahan iklim merupakan tantangan bersama yang membutuhkan kolaborasi lintas sektor.
Dalam sesi berikutnya, Abdon Nababan menegaskan bahwa masyarakat adat merupakan benteng utama perlindungan hutan.
"Perlindungan ekosistem alami yang paling murah dan paling efektif adalah melindungi pelindung hutannya, yaitu masyarakat adat beserta pengetahuan tradisionalnya."
Sementara itu, Prof. Jatna Supriatna mengingatkan bahwa lebih dari 40 persen kekayaan biodiversitas Indonesia berada di Papua. Menurutnya, pembangunan di Tanah Papua harus berlandaskan prinsip geo-ekologi dan konservasi agar kekayaan hayati tersebut tidak hilang akibat eksploitasi yang tidak terkendali.
Perspektif keagamaan disampaikan Pdt. Ronald R. Tapilatu, yang menekankan bahwa iman, ilmu pengetahuan, dan kearifan masyarakat adat harus berjalan beriringan.
"Pemuka agama seharusnya berdiri di garis depan mendampingi masyarakat adat. Hutan Papua bukan sekadar bentang alam, tetapi ruang hidup, ruang spiritual, dan penyangga iklim dunia. Menjaga hutan berarti menjaga kehidupan."
Seluruh rangkaian diskusi tersebut memperkuat keyakinan para peserta bahwa penyelamatan hutan Papua tidak cukup dilakukan melalui pendekatan teknis semata. Dibutuhkan gerakan kolektif yang menyatukan kekuatan moral agama, bukti ilmiah, dan pengetahuan masyarakat adat.
Melalui Chapter IRI Papua Barat Daya, kolaborasi itu kini memiliki rumah bersama sebagai ruang tempat berbagai pihak bekerja berdampingan agar hutan Papua tetap lestari, hak masyarakat adat semakin kuat, dan keadilan ekologis menjadi fondasi pembangunan bagi generasi yang akan datang.*
Artikel Terkait
Bupati Ronald Kandoli Resmi Serahkan SPPT dan DHKP PBB-P2 2026, Camat Diminta Gerak Cepat Dongkrak PAD Mitra
Talaud Tetap Terkoneksi: Bupati Welly Titah Koordinasi dengan BAKTI Kemkomdigi, Optimalkan Satelit SATRIA-1 Saat Palapa Ring Diperbaiki
OJK Cabut Izin Usaha 10 Bank hingga Juli 2026, Berikut Daftar Lengkapnya
Menjaga Hasil Panen, Membuka Jalan Harapan bagi Masyarakat Tilihuwa
PLN Hadirkan Listrik Andal Sukseskan Lomba Masamper "Oikumene Bermazmur" di Sangihe, Wujud Dukungan Pelestarian Budaya dan Kebersamaan
Wujud Kepedulian TNI AD,Babinsa Sertu Nursan Tameane Hadiri Peletakan Batu Pertama Tower Sumur Bor di Desa Akas
Juventus Selangkah Lagi Datangkan Randal Kolo Muani dan Kerim Alajbegovic di Bursa Transfer
Sonegritas TNI-Mahasiswa Dalam Mendukung Pembangunan Desa Lewat Giat Pembuatan Sumur Bor
Wujud Kebersamaan, Babinsa Bersama Warga Laksanakan Karya Bakti Pengecoran Pondasi Pemasangan Paving Blok
Babinsa Koramil 1312-03/Beo Melaksanaka Karya Bhakti P3mbuatan Drainase Saluran Pembuanga Air