Viral Utas Supplier Makan Bergizi Gratis (MBG): Diminta Kirim Beras Broken, Ayam Memar, hingga Markup Invoice

photo author
Dedy Dagomes Manlesu, Sulut Zone
- Senin, 7 September 2026 | 23:01 WIB
Viral utas soal bahan baku untuk dapur MBG. (Threads/dewarmdhy - Instagram/badangizinasional.ri)
Viral utas soal bahan baku untuk dapur MBG. (Threads/dewarmdhy - Instagram/badangizinasional.ri)

Sulutzone.com — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi perbincangan hangat publik. Setelah dihadapkan pada sorotan kasus dugaan keracunan massal siswa di beberapa daerah, kini muncul polemik baru yang bersumber dari pengakuan para pelaku usaha dan calon distributor bahan baku pangan di media sosial.

Sebuah utas viral yang diunggah oleh akun Threads @dewarmdhy membagikan tangkapan layar percakapan pesan instan WhatsApp yang memperlihatkan adanya pihak mencari pasokan beras broken (beras patah) dalam jumlah besar untuk program MBG.

"Ada channel yang jual beras broken ga? Ada yang ngajakin gua kerja sama, dia butuh 60 ton per minggu," bunyi kutipan pesan yang diunggah dan telah dilihat lebih dari 358 ribu kali per Minggu (6/9/2026).

Meskipun Mentan Andi Amran Sulaiman dalam keterangan terpisahnya menyatakan beras broken umumnya digunakan sebagai batasan standar persentase campuran kualitas beras, penggunaan secara mendominasi untuk konsumsi siswa menuai keprihatinan masyarakat.

Mengaku Diminta Pasok Ayam Afkir hingga Memar

Dugaan penurunan standar keandalan mutu bahan baku tak berhenti pada komoditas beras. Pengguna akun Threads @entoniett.s menceritakan pengalamannya saat diajak bekerja sama oleh pimpinan salah satu dapur MBG untuk menyuplai daging ayam.

Ia mengaku terkejut lantaran oknum tersebut meminta disediakan ayam afkir (ayam petelur tua yang telah melewati masa produktif) serta ayam kondisi memar demi menekan harga beli hingga Rp33.000 per kilogram untuk jenis fillet dada.

"Lha baru kali ini ada yang minta ayam jelek, dia lanjutkanlah: 'Buat stok dapur saya mba, saya ada 2 dapur, harga bisa ya dapat Rp33.000 per kg?' Nah yang dia minta fillet dada... ayam begitu ga oke dikonsumsi," tulisnya.

Secara medis dan kulinari, ayam petelur afkir memiliki tekstur daging yang jauh lebih alot serta berisiko cepat berbau akibat paparan obat-obatan pendukung selama masa bertelur. Sementara area daging ayam memar berisiko tinggi terkontaminasi apabila telah terlalu lama dari masa penyembelihan.

Permainan Invoice dan Penawaran Lauk Sangat Murah

Masih dari akun yang sama, terungkap pula dugaan praktik koruptif berupa manipulasi harga (markup) nota pembelian bahan pangan oleh oknum Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

"Kepala SPPG, stop ya minta harga dada fillet Rp33.000 per kg tapi invoice Rp56.000 per kg. Masih nyepamin gue, gue sebar nomor lu," tegas akun tersebut.

Cerita senada disampaikan akun @gorengankemaren_ yang mengaku produk porsi makanan beku miliknya ditawar tidak rasional oleh pimpinan kegiatan MBG hingga menembus angka Rp3.000 per porsi.

Ringkasan Temuan Fenomena Pasokan Dapur MBG di Media Sosial

Komoditas / Isu Modus yang Ditemukan Dampak / Risiko Kesehatan & Hukum
Beras Pencarian pasokan beras broken hingga 60 ton/minggu Kualitas tekstur dan gizi beras menurun
Daging Ayam Permintaan ayam afkir & memar seharga Rp33.000/kg Tekstur alot, bau, risiko pembusukan (tiren)
Keuangan Minta markup invoice (Nota Rp56 ribu vs Beli Rp33 ribu) Potensi tindak pidana korupsi anggaran
Katering / Frozen Penawaran porsi lauk ekstrem (Rp3.000/porsi) Risiko pemangkasan mutu porsi gizi anak

Respon dan Instruksi Badan Gizi Nasional (BGN)

Merespons maraknya isu terkait pemenuhan nutrisi anak sekolah, Badan Gizi Nasional (BGN) kembali memperingatkan seluruh jajaran Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau pengelola dapur MBG agar senantiasa mematuhi regulasi B2SA (Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman).

BGN menegaskan bahwa ketersediaan bahan pangan utama seperti telur, daging ayam, dan beras wajib melalui proses inspeksi kelayakan fisik sebelum diolah menjadi sajian makanan bagi para siswa penerima manfaat.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Dedy Dagomes Manlesu

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X