SULUTZONE.COM – Sebuah potongan video yang memperlihatkan keteguhan hati warga terdampak bencana di Kabupaten Aceh Tengah mendadak viral dan menyentuh hati ratusan ribu netizen.
Video yang diunggah oleh pendakwah asal Yogyakarta, Ustadz Salim A. Fillah, mengungkap sisi lain pascabencana banjir bandang dan longsor yang menerjang wilayah tersebut akhir November 2025 lalu.
Dalam unggahan di akun Instagram @salimfillah_official, Minggu (4/1/2026), Salim membagikan percakapan mendalamnya dengan seorang 'Pak Reje' (sebutan kepala desa di Aceh) yang menolak untuk dikasihani secara berlebihan.
Prioritas Akses, Bukan Sekadar Bantuan
Salim A. Fillah menegaskan bahwa masalah utama yang dihadapi warga saat ini bukanlah ketiadaan bantuan pangan semata, melainkan terputusnya akses jembatan dan jalan akibat longsor.
"Patah hati terbesar kami ketika mendengar cerita dari Pak Reje. Inilah mengapa kami fokus pada perbaikan akses, karena masalah ini vital. Jika akses terputus, ekonomi tidak bisa berputar. Masyarakat tidak bisa jual beli," ungkap Salim dalam keterangannya.
"Kami Orang Petani, Kami Tahu Diri"
Dalam cuplikan video tersebut, sang kepala desa dengan nada bergetar namun tegas menyatakan bahwa warga desanya memiliki harga diri yang tinggi dan semangat kerja yang kuat. Mereka tidak ingin bergantung pada bantuan sosial selamanya.
"Kalau seandainya Pak, akses jalan kami bisa lewat, kami tidak perlu bantuan Pak. Kami bukan orang malas di sini, kami orang petani Pak, kami tahu diri," tegas Pak Reje yang enggan disebutkan namanya itu.
Ia menambahkan bahwa yang paling dibutuhkan warga saat ini adalah kemampuan untuk kembali bekerja di ladang dan memulihkan ekonomi secara mandiri.
Baca Juga: Heboh! Podcast Ahok dan Denny Sumargo Sempat Hilang, Ternyata Bahas Aturan Pilkada hingga Keberanian Pandji Pragiwaksono
Kondisi Miris Anak-Anak di Pengungsian
Selain masalah akses ekonomi, Pak Reje juga mengisahkan kondisi memprihatinkan yang dialami generasi muda di desanya. Sejak bencana melanda, aktivitas pendidikan dan keagamaan praktis terhenti.
"Anak-anak kami sekarang ini sudah berapa bulan tidak mengaji karena tidak ada penerangan (listrik). Mereka juga tidak bersekolah karena seragamnya hanyut," tandasnya.
Dukungan dan Doa Mengalir dari Netizen
Hingga Kamis (8/1/2026), unggahan tersebut telah disukai lebih dari 115 ribu pengguna Instagram dan dibanjiri ribuan komentar yang memberikan dukungan moral.
"Ya Allah, angkatlah derajat saudara kami di Sumatera dan Aceh. Hilangkan kesedihannya, mudahkan semuanya," tulis akun @guppymida di kolom komentar.
Perjuangan warga Aceh Tengah ini menjadi pengingat bagi publik bahwa pemulihan pascabencana tidak hanya soal mengirimkan paket sembako, tetapi juga tentang mengembalikan martabat dan akses hidup masyarakat agar bisa kembali berdiri di atas kaki sendiri.***
Artikel Terkait
Sidang Korupsi Incinerator Manado: Penasihat Hukum Minta Terdakwa Dibebaskan, Sebut Alat Bukan Fiktif
Wujud Nyata Kehadiran Pemerintah: Bupati Talaud Welly Titah Beri Bantuan Pemulihan Pasca Banjir di Dua Desa
Review Film Suka Duka Tawa: Kejujuran Pahit di Balik Tawa, Sebuah Katarsis Keluarga Broken Home
Pemdes Adalah Etalase Pemkab Minahasa: Polemik Pergantian Pala di Pineleng Satu Jadi Pelajaran
Sejarah Baru! LISA BLACKPINK Jadi Idol K-Pop Pertama yang Jadi Presenter di Golden Globes 2026
Operasi Pencarian Diperpanjang! Pendaki Magelang Syafiq Ridhan Ali Razan Masih Hilang di Gunung Slamet
Gerindra Hormati Perubahan Sikap Demokrat Terkait Wacana Pilkada Lewat DPRD
Babinsa Miangas Talaud 'Prajurit Kopra': Turun Tangan Bantu Warga Olah Kelapa, Jalin Semangat Ekonomi Lokal
Mahfud MD Siap Pasang Badan! Sebut Pandji Pragiwaksono Tak Bisa Dipidana Usai Roasting Wapres Gibran
Heboh! Podcast Ahok dan Denny Sumargo Sempat Hilang, Ternyata Bahas Aturan Pilkada hingga Keberanian Pandji Pragiwaksono