Review Film Suka Duka Tawa: Kejujuran Pahit di Balik Tawa, Sebuah Katarsis Keluarga Broken Home

photo author
- Sabtu, 10 Januari 2026 | 12:59 WIB
Film SUka Duka Tawa Sukses Menyuguhkan Cerita Keluarga dengan Jujur (Dok. Visinema)
Film SUka Duka Tawa Sukses Menyuguhkan Cerita Keluarga dengan Jujur (Dok. Visinema)

Oleh: Dedy Dagomes (Founder Tridi Media/sulutzone.com)

Awal tahun 2026 dibuka dengan sebuah suguhan yang menyegarkan di tengah gempuran film horor tanah air. Film "Suka Duka Tawa" karya sutradara Aco Tenriyagelli, yang resmi tayang sejak 8 Januari lalu, bukan sekadar komedi biasa. Bagi saya, film berdurasi 2 jam 7 menit ini adalah sebuah cermin yang sangat personal sekaligus potret jujur industri komedi saat ini.

Sinopsis Singkat: Luka yang Menjadi Tawa

Film ini mengikuti perjalanan Tawa (Rachel Amanda), seorang komika muda yang kariernya melesat berkat materi stand-up yang mengeksploitasi hubungan disfungsional dengan ayahnya, Pak Keset (Teuku Rifnu Wikana). Pak Keset adalah pelawak senior yang dulu menelantarkannya. Kontras yang menarik muncul di sini: ketika karier Tawa meroket karena membongkar aib sang ayah, karier Pak Keset justru semakin terpuruk.

Namun, di balik panggung yang riuh, film ini membawa kita pada proses rekonsiliasi. Pak Keset dengan legawa membiarkan dirinya menjadi bahan tertawaan demi kebahagiaan dan kesuksesan anaknya, hingga perlahan hubungan mereka mulai mencair.

Perspektif Dedy Dagomes: "Related" Hingga ke Tulang

Bagi saya pribadi, menonton film ini terasa sangat dekat. Ada kemiripan dengan hidup saya, meski saya tinggal bersama bokap, namun pada akhirnya saya justru dibesarkan oleh Oma dan Opa. Film ini sangat jujur menampilkan sisi kelam kehidupan keluarga broken home. Kita melihat dilema besar: yang satu ingin meraih mimpi, sementara yang lain harus melepaskan mimpinya demi sang anak.

Ada istilah "Bapak ketemu gede" yang identik dengan komika Aci Resti. Sejak awal, saya sudah menebak bahwa film ini kemungkinan besar terinspirasi dari kisah hidupnya, dan dugaan itu pun diamini oleh istri saya saat menonton.

Poster Suka Duka Tawa
Poster Suka Duka Tawa (Dok. Visinema)

Detail Kecil yang "Kena" dan Berani

Salah satu yang saya apresiasi adalah keberanian penulis skenario dalam menyisipkan detail-detail yang "panas". Ada adegan roasting Tawa yang tidak disukai seniornya—sebuah sindiran halus (atau kasar?) pada kejadian-kejadian viral di dunia komedi kita.

Bahkan, ada detail yang mengingatkan saya pada sosok Sule. Meski alurnya berbeda, isu tentang sensitivitas saat di-roasting dan bagaimana hal itu berdampak pada karier di TV disajikan dengan cerdas. Film ini membedah realita bahwa menjadi komika itu tidak mudah; harus ada riset, kulikan, dan ketepatan. Jika tidak, itu hanya akan jatuh menjadi aksi bullying.

Kemasan "Elit" yang Tetap Jujur

Berbeda dengan stereotip film broken home di Indonesia yang biasanya dibungkus dengan latar kemiskinan kota Jakarta, "Suka Duka Tawa" hadir dengan suasana yang sedikit lebih "elit". Menurut saya ini langkah yang tepat. Dunia lawak sudah bergeser ke arah komika yang kini menjadi wajah baru hiburan kelas atas.

Meskipun suasananya tidak dipaksakan terlihat miskin, kejujurannya tetap terasa lewat dukungan teman-teman Tawa (diperankan dengan apik oleh komika asli seperti Bintang Emon, Gilang Bhaskara, hingga Arif Brata) yang setia menemani di masa sulit.

Kesimpulan: Lebih dari Sekadar "Punchline"

Isu fatherless (kurangnya peran ayah secara fisik maupun psikologis) yang diangkat menjadi inti emosional film ini. Rachel Amanda berhasil mengekspresikan spektrum emosi yang luas, dari kemarahan yang meluap hingga kerinduan yang sunyi.

Sebagai orang yang bergerak di bidang media dan jurnalis, saya paham betul sulitnya mencari fakta dan menyampaikannya ke publik. Komika melakukan hal yang serupa namun dengan beban tambahan: harus lucu. Ini adalah teknik public speaking kelas atas.

Pesan saya: Para komika harus lebih berani membuat film dengan genre seperti ini. Mari kita perkaya khazanah film Indonesia agar bioskop kita tidak melulu bicara tentang SETAN!

Suka Duka Tawa adalah bukti bahwa kejujuran, meski pahit, bisa menjadi hiburan yang sangat berkelas.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Tria Anggreina Kawulusan

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X