MANADO, sulutzone.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Sam Ratulangi mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem untuk wilayah Sulawesi Utara (Sulut) mulai 30 November 2025.
Peringatan ini disampaikan untuk mendesak kewaspadaan tinggi, mengingat adanya kesamaan fenomena atmosfer yang baru-baru ini memicu bencana hidrometeorologi parah seperti banjir dan longsor di wilayah Sumatra.
Plh Kepala Stasiun Meteorologi Samrat, Margy Octavia, menyatakan bahwa potensi hujan lebat disertai kilat/petir dan angin kencang diprediksi akan terjadi di sebagian besar kabupaten/kota Sulut.
Pemicu Cuaca dan Kemiripan Pola
Margy menjelaskan bahwa peningkatan curah hujan di Sulut dipengaruhi oleh faktor-faktor utama yang sama-sama aktif secara regional, yakni dominasi angin Muson Barat dan fenomena La Nina aktif, ditambah dengan suhu muka laut yang menghangat.
Kondisi tersebut diperkuat dengan terdeteksinya pusat tekanan rendah di Samudera Pasifik utara Papua, yang memicu pertemuan dan belokan angin, serta pergerakan Madden Julian Oscillation (MJO) melintasi wilayah Sulut. Kombinasi faktor-faktor ini menciptakan kondisi atmosfer yang sangat labil, identik dengan pemicu curah hujan ekstrem yang menyebabkan bencana di Sumatra.
Baca Juga: PLN Siap Jadi Offtaker Utama, Proyek 'Waste to Energy' Resmi Masuk RUPTL 2025–2034
Wilayah Terdampak dan Imbauan Kewaspadaan
Wilayah di Sulut yang berpotensi terdampak hujan lebat dan angin kencang antara lain:
- Kota: Manado, Bitung, Tomohon.
- Kabupaten: Minahasa, Minahasa Utara, Minahasa Selatan, Bolaang Mongondow, Bolaang Mongondow Utara, Kepulauan Sitaro, Kepulauan Sangihe, dan Kepulauan Talaud.
Margy Octavia menekankan pentingnya belajar dari kejadian di wilayah lain.
“BMKG imbau Pemerintah Kabupaten/Kota dan Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara agar dapat meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan serta berkoordinasi dengan instansi terkait sebagai tindakan antisipasi bencana hidrometeorologi (genangan air, banjir, tanah longsor, dan pohon tumbang) terlebih khusus untuk daerah bertopografi curam/bergunung/tebing atau rawan longsor dan banjir,” tegasnya.
Masyarakat yang tinggal di lokasi rawan diminta untuk segera melakukan langkah mitigasi dan menjauhi area tebing atau sungai saat curah hujan tinggi.
***
Artikel Terkait
Diskusi Publik INDEF : “Menakar Potensi Danantara sebagai Katalis Pertumbuhan Ekonomi Syariah Indonesia”
PETI Sungai Paret Boltim Kembali Marak, Kapolres Tegaskan Perintah Kapolda: Tangkap Pelaku yang Bermain Tambang Ilegal!
Kasus KUR Fiktif Berulang di Bank Sumsel Babel, K-MAKI Desak OJK Audit Total: Jangan Jadi 'Sapi Ompong'!
Amankan Layanan Digital, Polda Sulut dan Bank SulutGo Teken MoU Sinergi Pengamanan Perbankan
Ikut Instruksi Prabowo, Tim Natal Nasional Terus Antar Bantuan ke Korban Bencana di Sumatera
Picu Keributan Dini Hari, Perkelahian Kelompok Antar Desa di Minahasa Tenggara Pecah
Satu Terduga Pelaku Pencurian Anjing di Kombi Minahasa, Sulawesi Utara Tertangkap, Mobil Dibakar Massa
Dukung Pariwisata dan Ekonomi Hijau, Pemerintah dan PLN Targetkan 33 Pembangkit Listrik Tenaga Sampah Beroperasi di 2029
PLN Siap Jadi Offtaker Utama, Proyek 'Waste to Energy' Resmi Masuk RUPTL 2025–2034
BMKG Keluarkan Peringatan Dini Cuaca Ekstrem Sulawesi Utara: Hujan Lebat Dipicu La Nina dan Pusat Tekanan Rendah