Manado, sulutzonecom – Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Manado melayangkan kecaman keras terhadap Ketua DPRD Sulawesi Utara (Sulut), Fransiscus Andi Silangen, terkait pernyataannya yang dinilai melecehkan peserta didik.
Pernyataan tersebut, yang menyebut "bodoh" dalam konteks pendidikan, dianggap GMNi Manado sebagai bentuk kekerasan simbolik dan pelecehan terhadap semangat belajar anak bangsa.
Kontroversi ini bermula saat Rapat Dengar Pendapat Komisi IV DPRD Sulawesi Utara.
Fransiscus Andi Silangen melontarkan pernyataan, "Saya lantas memberikan penguatan bahwa, di mana pun kita bersekolah, kalau kita memang pintar, ya,..kalau dia bodok-bodok (bodoh), mo sekolah di manapun bersekolah tetap bodok,” dengan nada bercanda yang kemudian disambut tawa.
Bagi GMNI Manado, ucapan ini jauh dari sekadar celotehan biasa. Mereka melihatnya sebagai cerminan cara pandang yang merendahkan perjuangan siswa dan keluarga dalam meraih pendidikan terbaik, terutama di tengah sistem zonasi yang masih menghadapi tantangan keadilan dan pemerataan.
Hizkia Rantung, Ketua GMNI Manado, menegaskan bahwa pernyataan tersebut telah menormalisasi penghinaan terhadap kecerdasan seseorang, suatu hal yang tidak seharusnya keluar dari mulut seorang pejabat publik.
"Kami menilai ini sebagai pelecehan verbal dalam komunikasi politik dan etika kepemimpinan," tegas Hizkia Rantung.
Ia menambahkan bahwa dalam sebuah demokrasi, bahasa seorang pemimpin seharusnya mencerminkan keberpihakan kepada rakyat.
Ketika bahasa digunakan untuk menertawakan rakyat, maka kekuasaan telah berubah dari pelindung menjadi pelaku pelecehan.
GMNI Manado juga menegaskan bahwa setiap siswa, dari sekolah manapun, berhak atas semangat dan ruang untuk berkembang.
Mereka secara tegas menolak gagasan adanya anak bangsa yang pantas dicap "bodoh".
"Pendidikan tidak dilandasi pada siapa yang unggul, tetapi pada siapa yang diberi kesempatan, perhatian, dan keadilan untuk tumbuh. Dan setiap anak bangsa, tanpa kecuali, berhak atas itu," jelas Hizkia Rantung.
Pernyataan Ketua DPRD Sulut ini dinilai tidak hanya melukai perasaan siswa, tetapi juga merendahkan kerja keras para guru, orang tua, dan semua pihak yang telah berjuang demi kualitas pendidikan di daerah.
Oleh karena itu, GMNI Manado mendesak Fransiscus Andi Silangen untuk menyadari kekeliruannya, mencabut pernyataan tersebut, dan segera menyampaikan permintaan maaf kepada publik.
Artikel Terkait
Ternyata! Ada 43 Pulau di Indonesia dalam Sengketa Administratif, Wamendagri Soroti Pola Mirip Kasus Aceh-Sumut
Buruh Pukul Sopir Hingga Tewas di Manado, Pelaku Dibekuk Polisi
Wali Kota Andrei Angouw Tinjau UPTD PPA, TPU Pandu, dan Manado Bay
Hari Bhayangkara ke-79, Polsek Rainis Talaud dan Bhayangkari Berbagi Berkah untuk Purnawirawan dan Warakawuri
Hari Bhayangkara ke-79, Polsek Essang Talaud Buktikan Cinta Polri pada Warga Lewat Bantuan Sosial
Ipda. Andika Eka Putra Amisi, SH Tebar Kebaikan, Rayakan HUT Bhayangkara ke-79 dengan Hati Nurani
Pasca Lantik Pengurus Manado, Victor Mailangkay Perintahkan GM-FKPPI Harus Hadir di 15 Kabupaten/Kota
Jadi Harapan Para Pemuda, GM FKPPI Sulut Siap Dukung Musda Penyatuan KNPI Sulut
Hari Bhayangkara ke-79, Laut Talaud Jadi Saksi Bisu Penghormatan Polri
Ngeri! Dihantui Sang Ayah: Trailer Film Selepas Tahlil Hadirkan Teror dari Jenazah yang Bangkit dan Berjalan Sendiri