Ketahui Bahaya ‘Karoshi’, Budaya Kerja Sampai Mati di Jepang yang Tuai Sorotan Dunia Internasional

photo author
Tim Redaksi, Sulut Zone
- Selasa, 17 September 2024 | 15:03 WIB
Ilustrasi kerja di Jepang Karoshi (Sulutzone.com/AI by Canva))
Ilustrasi kerja di Jepang Karoshi (Sulutzone.com/AI by Canva))

SULUT ZONE - Fenomena 'karoshi' atau kematian akibat bekerja yang terjadi di Jepang menjadi perbincangan hangat publik internasional.

‘Karoshi’ juga sering disebut aktivitas seorang karyawan yang bekerja sampai mati, karena sang karyawan terlalu banyak bekerja dengan jam kerja yang relatif terlalu panjang.

Selain itu, para karyawan di Jepang kebanyakan memiliki ikatan terlalu besar dengan pekerjaan. Hal inilah yang membuat mereka rela sering bekerja sampai lembur.

Fenomena ini menjadi isu yang hangat, hingga membuat Jepang mendapatkan julukan sebagai negara dengan penduduk yang gila kerja dan rela menghabiskan waktu untuk bekerja. 

Sayangnya, kebiasaan gila kerja ini kerap kali menyebabkan kematian karena kelelahan. Kasus kematian karena terlalu banyak kerja inilah yang disebut sebagai ‘karoshi’.

 

‘Karoshi’ Pertama di Jepang

Di Jepang, karoshi pertama kali terjadi pada tahun 1969. Hal ini terjadi pada pria berusia 29 tahun yang pada saat itu bekerja di departemen pengiriman surat kabar di Jepang. 

Ketika di kantor, pria tersebut mendadak terserang stroke dan dinyatakan meninggal karena terlalu berlebihan bekerja.

Sejak kejadian tersebut, fenomena karoshi terus terjadi di Jepang karena para pegawai takut akan dipecat apabila kerja mereka tidak maksimal. 

Mereka juga berharap bisa segera naik pangkat atau naik gaji dengan menunjukkan hasil kerja yang maksimal di hadapan atasan.

Sayangnya, kerja yang berlebihan ini terkadang membuat para pekerja di Jepang jatuh sakit.

Baca Juga: KPU Sulut Sosialisasikan Produk Hukum di Kotamobagu

Budaya Kerja yang Ketat

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Dedy Dagomes Manlesu

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X