MANADO, SULUTZONE.COM – Nama Johan Neeskens Audy Mandey mungkin sudah tidak asing lagi di telinga para pecinta sepak bola Sulawesi Utara era 90-an. Sosok yang akrab disapa Neeskens ini kini telah bertransformasi sepenuhnya, meninggalkan hiruk-pikuk stadion demi dedikasi di dunia perbankan. Saat ini, pria kelahiran Manado, 20 Agustus 1976 tersebut sukses menduduki posisi strategis sebagai Sub Branch Manager BNI Wanea, membuktikan bahwa disiplin di lapangan hijau dapat berbuah manis di dunia korporasi.
Perjalanan karier Neeskens adalah sebuah anomali yang inspiratif. Di saat banyak pemain muda bermimpi menembus kasta tertinggi liga profesional, Neeskens justru mengambil keputusan berani untuk berhenti bermain di usia 23 tahun—sebuah usia yang lazimnya dianggap sebagai awal masa emas seorang atlet sepak bola. Keputusan itu diambil bukan karena cedera atau penurunan performa, melainkan demi menuntaskan pendidikan S1 dan memenuhi harapan orang tua.
Pada masa itu, sepak bola nasional belum menjanjikan kesejahteraan finansial seperti sekarang. "Saya harus memilih antara gairah di lapangan atau masa depan yang lebih terukur melalui studi," kenang Neeskens. Pilihan tersebut tidaklah mudah; ia harus merelakan kesempatan emas memperkuat tim PON Sulut yang dijadwalkan melakukan uji coba ke luar negeri, serta menolak tawaran dari klub-klub besar seperti Persiba Balikpapan dan Persitara Jakarta Utara.
Julukan "The Assassin" di Lapangan Hijau
Ketajaman Neeskens di depan gawang lawan memang sudah melegenda di masanya. Pernah membela Persma Junior, Persmin Minahasa, hingga Persiba Balikpapan, ia dikenal sebagai pemain serba bisa yang mampu beroperasi sebagai striker maupun gelandang serang.
Kemampuannya mencetak gol dari sudut-sudut sempit dan situasi sulit membuatnya disegani kawan maupun lawan.
"Rekan-rekan sesama pemain sepak bola menjuluki saya 'Assasins', karena kemampuan mencetak gol dari posisi yang sulit yang menurut mereka tidak semua pemain bisa melakukannya," ungkapnya.
Ketajaman naluri "membunuh" di area penalti ini rupanya berhasil ia konversi menjadi ketajaman dalam memimpin unit bisnis di dunia perbankan.
Transisi Mulus ke Dunia Perbankan
Neeskens resmi bergabung dengan BNI pada tahun 2002, hanya beberapa tahun setelah ia menggantung sepatunya secara profesional. Meski sudah menyandang status sebagai pegawai bank, kecintaannya terhadap sepak bola tidak pernah benar-benar padam. Ia tetap berkontribusi bagi perusahaan melalui jalur olahraga.
Puncaknya terjadi pada tahun 2009, di mana ia berhasil meraih penghargaan sebagai Pemain Terbaik BNI se-Indonesia. Tak hanya itu, ia juga membawa tim BNI Wilayah Manado meraih posisi Juara 2 nasional, serta menyabet medali perunggu (Juara 3) dalam ajang bergengsi Pekan Olahraga (POR) BUMN.
Sosok Low Profile di Mata Kolega
Meski memiliki rekam jejak prestasi yang mentereng, baik di lapangan hijau maupun di tangga karier perbankan, sosok Neeskens dikenal sangat membumi. Di kantor BNI Cabang Manado, ia dikenal sebagai pimpinan yang tidak menonjolkan diri.
"Pak Neeskens adalah orang yang sangat low profile," ujar salah satu rekan kerjanya. Karakter inilah yang disinyalir menjadi kunci keberhasilannya dalam memimpin BNI Sub Branch Wanea, di mana pendekatan personal dan kerja sama tim menjadi pilar utama pelayanan perbankan.
Artikel Terkait
Ribuan Personel Polri Siap Amankan PON XXI 2024
Jejak Hitam Sepak Bola di Indonesia, Aceh vs Sulteg di PON XXI 2024 Terparah
Persma Manado Siap Comeback? Terungkap Dari Postingan Bang Ai Mangindaan
Nostalgia Panas di Sario: Persija Glory Taklukkan Persma All Star 4-3
Persma 1960 Gelar Seleksi Terbuka GRATIS! Cari Talenta Kelahiran 2005-2008, Satu Komando Petarung!!!
Persma Manado Incar "Mutiara" Eks Persipura: Jezreel Delvio Geroda Jalani Trial di Stadion Klabat
Kinerja BNI 2025 Lampaui Target, Fokus Garap Segmen UMKM di Tahun 2026
Go Global! BNI Persenjatai UMKM dengan Teknologi AI untuk Tembus Pasar Ekspor
Derby Kawanua: Persmin vs Persma 1960, Tim “Badai Biru” Siap Unjuk Kekuatan