Diam-diam Bolmut Rebranding Jadi Boltara

photo author
- Kamis, 19 Juni 2025 | 19:22 WIB
Ilustrasi (ist)
Ilustrasi (ist)

sulutzonecom -- Bolaang Mongondow Utara (Bolmut), sebuah kabupaten yang kaya akan sejarah dan budaya di ujung utara Sulawesi, kembali menjadi perbincangan hangat di kalangan warganya.

Bukan karena gebrakan pembangunan infrastruktur atau inovasi kebijakan daerah, melainkan karena sebuah isu yang lebih fundamental, menyentuh identitas kolektif: rencana rebranding singkatan nama daerah mereka.

Wacana untuk mengubah atau menyingkat Bolmut menjadi Boltara kini tengah santer dibicarakan, memenuhi lini masa media sosial dan menjadi topik utama di berbagai forum diskusi lokal.

Perdebatan ini tidak hanya tentang estetika nama, tetapi juga tentang bagaimana sebuah identitas daerah diwariskan dan direpresentasikan di mata publik.

Perubahan singkatan ini pertama kali mencuat dan mendapatkan persetujuan masif pada perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-18 Bolmut.

Momen bersejarah itu terjadi di hadapan puluhan ribu rakyat yang memadati lapangan Kembar Buroko pada acara penutupan Boltara Expo.

Ide nama Boltara muncul secara spontan dari Habib Ali bin Muhammad Aljufrie, Ketua MUI Sulawesi Tengah, saat memberikan ceramah agama malam itu.

Di akhir ceramahnya yang penuh makna, cucu Guru Tua tersebut tiba-tiba menyatakan, "Bolmut itu punya arti yang tidak bagus dalam bahasa Arab.

Bagaimana kalau diganti dengan Boltara, kan lebih keren?" usulnya, disambut dengan respons cepat dari Bupati Sirajudin Lasena.

Sang Bupati segera menanyakan persetujuan rakyat yang tumpah ruah di lokasi, dan jawaban "Setuju?!" yang gegap gempita seolah menjadi legitimasi publik atas perubahan nama tersebut, menandai babak baru bagi Bolaang Mongondow Utara.

Pro dan Kontra di Masyarakat

Bagi sebagian kalangan, nama baru ini dianggap sebagai bentuk penyegaran yang diharapkan dapat membawa semangat kemajuan dan potensi daerah, serta lebih ringkas dan modern dalam penyebutannya. Pemerintah Kabupaten Bolaang Mongondow Utara berharap dengan singkatan Boltara, kabupaten ini dapat semakin dikenal luas dan menarik perhatian, baik untuk investasi maupun pariwisata.

Namun, tidak sedikit yang menilai langkah tersebut justru berpotensi mengaburkan identitas sejarah daerah. Salah satu suara penolakan datang dari generasi muda Bintauna, Panji Saputra Datunsopang. Ia menilai istilah “Boltara” tidak merefleksikan sejarah dan semangat pemekaran Bolmut.

“Bolaang Mongondow Utara bukan sesuatu yang jatuh dari langit. Ia lahir dari perjuangan kolektif. Rebranding tanpa pijakan historis hanya akan menghapus jati diri daerah,” tulis Panji dalam sebuah unggahan opini di Facebook pada Minggu, 25 Mei 2025.

Panji menyoroti tulisan birokrat Surya Ningrat Datunsolang yang mendukung istilah “Boltara”, namun menurutnya terlalu kental dengan muatan simbolik dan spiritual tanpa akar sejarah yang jelas. Mengutip filsuf Ludwig Wittgenstein, ia menegaskan, “Bahasa mencerminkan realitas, tetapi juga permainan sosial.” Dengan kata lain, perubahan nama tanpa konsensus hanya akan menjadi distraksi.

“Menolak ‘Boltara’ bukan berarti anti terhadap perubahan. Ini soal penghormatan terhadap sejarah dan para pelopor pemekaran Bolmut,” tegasnya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Tria Anggreina Kawulusan

Sumber: Berbagai Sumber, sulutnow.com

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X