Minahasa, Sulawesi Utara – Jeritan hati warga pesisir Danau Tondano yang terdampak banjir berkepanjangan telah menjadi sorotan publik.
Unggahan di media sosial dan pesan kepada wartawan mengungkap kondisi memprihatinkan masyarakat yang rumahnya terendam air selama berminggu-minggu, bahkan ada yang berbulan-bulan, tanpa ada solusi yang jelas.
Curahan Hati Gladis Tinangon di Facebook
Akun Facebook Gladis Tinangon mencurahkan keprihatinannya, yang kemudian viral di media sosial. Ia mengungkapkan rasa terima kasihnya karena curhatannya "diloloskan admin" grup Facebook, menandakan urgensi masalah ini di mata publik. Gladis menggambarkan betapa kasihan warga sekitar Danau Tondano yang harus hidup dengan genangan air.
"Kasiang masyarakat seputaran DANAU TONDANO, rumah so deng minggu2, ada yg so deng bulan2 so tarendam akang aer," tulis Gladis, yang berarti "Kasihan masyarakat di sekitar pesisir Danau Tondano, rumah sudah berminggu-minggu, ada yang sudah berbulan-bulan terendam air."
Gladis juga menyoroti dilema yang dihadapi warga terkait pengungsian.
Banyak yang sudah mengungsi, namun tak sedikit pula yang memilih bertahan meski harus menggunakan sepatu bot untuk beraktivitas.
Alasan utamanya adalah kesulitan mencari tempat pengungsian yang mau menampung mereka dalam jangka waktu lama.
"Kasiang kalau kw mo mengungsi pa org laeng kalau 1 atau 2 hari org masih mo maklumi, dorang mo tahan ley barang 3 atau 4 hari. Mar kalau so deng minggu2 kasiang sapa ley mo trima," lanjut Gladis, menggambarkan bahwa menerima pengungsi selama seminggu atau lebih akan menjadi beban bagi tuan rumah.
Ia juga menekankan beban moral yang dirasakan warga, "Dg yg terutama malo hati mo pigi merepotkan pa org laeng," atau "Yang terutama malu hati mau pergi merepotkan orang lain."
Banjir berkepanjangan ini tidak hanya mengganggu aktivitas sehari-hari dan pekerjaan warga, tetapi juga mengancam kesehatan.
Cuaca yang tidak menentu memperparah kondisi, membuat banyak warga jatuh sakit. Kerugian material juga tak terhindarkan.
Gladis menulis, "Dg kalau banjir surut trg pe kursi, koi kayu, lemari2 kayu, pasti so rusak samua," yang berarti "Dan kalau banjir surut, kursi-kursi kami, perabot kayu, lemari kayu, pasti sudah rusak semua."
Artikel Terkait
Banjir Landa Pusat Kota Bitung, Warga Bertanya-tanya Siapa yang Salah
Maraknya Komix Beredar Bebas di Manado, BBPOM Enggan Beri Keterangan Resmi
Simak 4 Poin Makna dalam Tema Harkitnas 2025
Kontroversi Kasino di Indonesia: Wacana untuk Tingkatkan Penerimaan Negara, Pro dan Kontra Muncul
Isu Komisi Lebih dari 20% pada Layanan Transportasi Online: Grab, Gojek, Maxim, dan InDrive Klarifikasi
Ini Para Pejuang di Balik Hari Kebangkitan Nasional Indonesia
Mimpi di Masa Kecil Kini Jadi Kenyataan, Shabrina Leanor Juara Indonesian Idol 2025
Profil Shabrina Leanor: Juara Indonesian Idol 2025
Kapolres Kepulauan Talaud AKBP Arie Sulistyo Nugroho, SIK, MH Irup Upacara Hari Kebangkitan Nasional ke 117 di Talaud
Api Lahap Rumah di Beo Barat Talaud, Polisi dan Warga Bersatu Padamkan Kobaran, Selamatkan Dua Anak