Banjir Tak Kunjung Surut, Warga Pesisir Danau Tondano Curhat di Media Sosial

photo author
Dedy Dagomes Manlesu, Sulut Zone
- Selasa, 20 Mei 2025 | 17:33 WIB
Screenshoot postingan akun Gladia Tinangon (Facebook Group Sulut Viral Update)
Screenshoot postingan akun Gladia Tinangon (Facebook Group Sulut Viral Update)

Minahasa, Sulawesi Utara – Jeritan hati warga pesisir Danau Tondano yang terdampak banjir berkepanjangan telah menjadi sorotan publik.

Unggahan di media sosial dan pesan kepada wartawan mengungkap kondisi memprihatinkan masyarakat yang rumahnya terendam air selama berminggu-minggu, bahkan ada yang berbulan-bulan, tanpa ada solusi yang jelas.

Baca Juga: Kapolres Kepulauan Talaud AKBP Arie Sulistyo Nugroho, SIK, MH Irup Upacara Hari Kebangkitan Nasional ke 117 di Talaud

Curahan Hati Gladis Tinangon di Facebook

Akun Facebook Gladis Tinangon mencurahkan keprihatinannya, yang kemudian viral di media sosial. Ia mengungkapkan rasa terima kasihnya karena curhatannya "diloloskan admin" grup Facebook, menandakan urgensi masalah ini di mata publik. Gladis menggambarkan betapa kasihan warga sekitar Danau Tondano yang harus hidup dengan genangan air.

"Kasiang masyarakat seputaran DANAU TONDANO, rumah so deng minggu2, ada yg so deng bulan2 so tarendam akang aer," tulis Gladis, yang berarti "Kasihan masyarakat di sekitar pesisir Danau Tondano, rumah sudah berminggu-minggu, ada yang sudah berbulan-bulan terendam air."

Gladis juga menyoroti dilema yang dihadapi warga terkait pengungsian.

Banyak yang sudah mengungsi, namun tak sedikit pula yang memilih bertahan meski harus menggunakan sepatu bot untuk beraktivitas.

Alasan utamanya adalah kesulitan mencari tempat pengungsian yang mau menampung mereka dalam jangka waktu lama.

"Kasiang kalau kw mo mengungsi pa org laeng kalau 1 atau 2 hari org masih mo maklumi, dorang mo tahan ley barang 3 atau 4 hari. Mar kalau so deng minggu2 kasiang sapa ley mo trima," lanjut Gladis, menggambarkan bahwa menerima pengungsi selama seminggu atau lebih akan menjadi beban bagi tuan rumah.

Ia juga menekankan beban moral yang dirasakan warga, "Dg yg terutama malo hati mo pigi merepotkan pa org laeng," atau "Yang terutama malu hati mau pergi merepotkan orang lain."

Banjir berkepanjangan ini tidak hanya mengganggu aktivitas sehari-hari dan pekerjaan warga, tetapi juga mengancam kesehatan.

Cuaca yang tidak menentu memperparah kondisi, membuat banyak warga jatuh sakit. Kerugian material juga tak terhindarkan.

Gladis menulis, "Dg kalau banjir surut trg pe kursi, koi kayu, lemari2 kayu, pasti so rusak samua," yang berarti "Dan kalau banjir surut, kursi-kursi kami, perabot kayu, lemari kayu, pasti sudah rusak semua."

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Dedy Dagomes Manlesu

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X