Melalui curhatannya, Gladis Tinangon mewakili suara masyarakat pesisir Danau Tondano yang sangat berharap akan kepedulian dari pihak berwenang, khususnya Pemerintah Kabupaten Minahasa.
Ia menyadari bahwa suara rakyat kecil mungkin seringkali tidak memiliki kekuatan, namun tetap menyimpan harapan besar.
"Mudah2an ada yg mo peduli. Yg terutama minta tolong akang kasiang Pemerintah Kabupaten Minahasa. baku inga akang deng masyarakat seputaran Danau Tondano," harap Gladis.
"Kita tau pasti suara rakyat jelata bagini kasiang nyanda ada depe power. Mar sapa tau Tuhan gerakkan pintu hati org2 yg terkait dengan masalah ini spy ada solusi."
Baca Juga: Api Lahap Rumah di Beo Barat Talaud, Polisi dan Warga Bersatu Padamkan Kobaran, Selamatkan Dua Anak
Kesaksian Warga Berinisial ES kepada Sulutzone.com
Keluhan serupa juga datang dari seorang warga berinisial ES melalui pesan WhatsApp kepada wartawan media Sulutzone.com, memperkuat gambaran penderitaan yang dialami penduduk setempat.
ES menceritakan bagaimana air yang awalnya hanya menggenang di dapur kini semakin tinggi.
"So dari tu ada ujang-ujang, pertama cuma di dapur itu pun belum tinggi begtu. Ini so maso smpe atas, aer lebe hari lebe nae. Biasa cuma batas telapak kaki di muka," ujar ES. Ia menambahkan, "sekrang so lewat mata kaki so lumayan ba nae tu aer, maknya kita ada suru tape mama waspada, kalo ada apa-apa ba bilang nanti mo pi ambe." ujarnya ES, yang ternyata kini sedang berada di Manado.
Kenaikan permukaan air ini semakin diperparah dengan hujan yang terus-menerus turun.
"Io npa ini ja ijang ley lebe nae tu aer," keluhnya.
Banjir ini juga berdampak signifikan pada pendidikan anak-anak. ES mengeluhkan bagaimana banjir menghambat pendidikan anak-anaknya.
"Npa tpe anak 2 so berapa hari nda ta sekola gara-gara baju sepatu kena akang banjir. Kong somo dekat-dekat ulangan penaikan klas nochh krna banjir pendidikan tertunda," tuturnya.
Akses terhadap air bersih pun menjadi masalah krusial.E S menyoroti, "Yang setengah mati, air bersih tu ja pake minum, mandi, momasa, kong rupa torang kalo tidak mampu kasiang terpaksa ja ba timba di lorong sebelah pa birman di jaga 5." Ini menunjukkan betapa sulitnya warga mendapatkan kebutuhan dasar akibat banjir.
Masyarakat pesisir Danau Tondano yang terdampak banjir meliputi wilayah Tondano Kiniar Jaga 6, Ara, dan sebagian Tolour. Mereka sangat berharap akan kepedulian dari pihak berwenang, khususnya Pemerintah Kabupaten Minahasa. ES berujar, "Mungkin krna t banjir nd para stow. Nanti so parah Bru m dpa bantuan," menyiratkan kekecewaan akan respons yang dirasa lambat.
Artikel Terkait
Banjir Landa Pusat Kota Bitung, Warga Bertanya-tanya Siapa yang Salah
Maraknya Komix Beredar Bebas di Manado, BBPOM Enggan Beri Keterangan Resmi
Simak 4 Poin Makna dalam Tema Harkitnas 2025
Kontroversi Kasino di Indonesia: Wacana untuk Tingkatkan Penerimaan Negara, Pro dan Kontra Muncul
Isu Komisi Lebih dari 20% pada Layanan Transportasi Online: Grab, Gojek, Maxim, dan InDrive Klarifikasi
Ini Para Pejuang di Balik Hari Kebangkitan Nasional Indonesia
Mimpi di Masa Kecil Kini Jadi Kenyataan, Shabrina Leanor Juara Indonesian Idol 2025
Profil Shabrina Leanor: Juara Indonesian Idol 2025
Kapolres Kepulauan Talaud AKBP Arie Sulistyo Nugroho, SIK, MH Irup Upacara Hari Kebangkitan Nasional ke 117 di Talaud
Api Lahap Rumah di Beo Barat Talaud, Polisi dan Warga Bersatu Padamkan Kobaran, Selamatkan Dua Anak