Sulutzone.com — Peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAK) di Perairan Selat Sunda menyisakan cerita mendebarkan bagi rombongan pemancing yang berada di sekitar lokasi. Sebuah video viral berdurasi singkat yang telah ditonton lebih dari 6 juta kali memperlihatkan kondisi geladak kapal yang tertutup hamparan pasir hitam tebal imbas lontaran material erupsi.
Pengalaman menegangkan tersebut dibagikan oleh pemancing sekaligus konten kreator bernama Ocy melalui akun Instagram resminya @destinasiocy pada Minggu (6/9/2026).
Ocy meluruskan anggapan warganet dan menegaskan bahwa dirinya beserta rombongan sama sekali tidak bermaksud sengaja mendekati kawah aktif Gunung Anak Krakatau untuk berswafoto atau melihat erupsi secara langsung.
"Sebelum kejadian, posisi kami sebenarnya di spot Sea Mount Reef (SMR) untuk memancing. Namun, karena cuaca di SMR tiba-tiba memburuk, kami memutuskan memutar arah mencari perlindungan ke arah kepulauan yang ada di sekitar Krakatau," ujar Ocy.
Dikira Suara Hujan, Kapal Dihujani Pasir Kasar
Ocy menceritakan, rombongannya tiba di sekitar kepulauan GAK sekitar pukul 23.30 WIB tanpa mengetahui bahwa gunung api tersebut mulai mengalami peningkatan erupsi sejak sore hari.
Semula, bunyi benturan material dari langit dikira sebagai curahan hujan lebat. Namun setelah diperiksa, material yang menghantam seluruh badan kapal merupakan pasir kasar hasil lontaran erupsi vulkanik.
"Itu pasir kasar, bukan debu. Pas dateng dikiranya suara hujan, enggak taunya pasir. Di perjalanan dari SMR jam 18.00 WIB, Gunung Anak Krakatau belum erupsi sampai di dekatnya itu setengah 12 malam, baru erupsi," jelas Ocy.
Dalam situasi krusial tersebut, pihak Syahbandar bergerak cepat menghubungi nahkoda kapal untuk segera memutar haluan dan menjauh dari kawasan bahaya. Seluruh penumpang dan awak kapal dilaporkan berhasil kembali ke dermaga di daratan dalam kondisi selamat dan sehat.
Kemenhub Larang Kapal Mendekat Radius 3 Kilometer
Merespons dinamika aktivitas Gunung Anak Krakatau yang berstatus Level III (Siaga), Direktorat Jenderal Perhubungan Laut (DJPL) Kementerian Perhubungan menerbitkan instruksi tegas bagi seluruh pengguna jasa transportasi laut dan nelayan di Selat Sunda.
Melalui Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas I Banten, pemerintah melarang keras seluruh kapal melintas atau mendekati area dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif GAK.
"Seluruh kapal yang melintas di Perairan Selat Sunda diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau, termasuk letusan, lontaran material vulkanik, abu vulkanik, maupun potensi gangguan terhadap keselamatan navigasi," bunyi keterangan resmi DJPL, Minggu (6/9/2026).
Ringkasan Informasi Erupsi dan Navigasi Laut Selat Sunda
| Parameter Ketentuan | Detail Keterangan Lapangan |
| Status Gunung Api | Level III (Siaga) |
| Zona Bahaya / Zona Terlarang | Radius minimal 3 Kilometer dari kawah aktif |
| Otoritas Penerbit Imbauan | KSOP Kelas I Banten / DJPL Kemenhub |
| Dampak Material di Laut | Hujan pasir kasar, abu vulkanik, & lontaran lava pijar |
| Status Penyeberangan Feri | Lintasan Merak–Bakauheni beroperasi Normal & Waspada |
Meskipun imbauan kewaspadaan ketat diberlakukan bagi kapal nelayan dan pelayaran terbatas, DJPL memastikan bahwa lintasan penyeberangan utama feri Merak–Bakauheni hingga saat ini masih berjalan normal dengan tetap mengedepankan standar keselamatan navigasi.