Sulutzonecom -- Penasihat Khusus Presiden untuk Urusan Ekonomi dan Pembangunan Nasional, Bambang Brodjonegoro, baru-baru ini mengungkapkan keprihatinannya atas penurunan jumlah kelas menengah di Indonesia yang terus berlanjut dari tahun ke tahun. Menurut Bambang, kondisi ini dapat diperbaiki dengan melibatkan investasi besar yang masuk ke Indonesia, guna mempercepat pertumbuhan ekonomi dan memperkuat daya beli masyarakat.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah kelas menengah di Indonesia pada 2024 tercatat hanya mencapai 47,85 juta jiwa atau sekitar 17,13% dari total penduduk. Angka ini menurun signifikan dibandingkan tahun 2019 yang masih mencapai 57,33 juta jiwa atau 21,45%. Artinya, dalam lima tahun terakhir, Indonesia kehilangan hampir 10 juta jiwa dari kelompok kelas menengah. Banyak dari mereka yang terpaksa turun kelas menjadi "aspiring middle class" atau bahkan mendekati garis kemiskinan.
Bambang menjelaskan bahwa meskipun tingkat kemiskinan di Indonesia sudah menurun menjadi sekitar 8,57%, banyak orang masih berada dalam posisi rentan, yang dapat jatuh miskin kembali akibat bencana alam, gagal panen, atau faktor eksternal lainnya. Oleh karena itu, untuk memperbaiki kondisi ini, pemerintah perlu fokus pada penciptaan lapangan kerja yang lebih banyak serta meningkatkan pendapatan masyarakat. Solusi utama yang ia soroti adalah peningkatan investasi, yang dapat menjadi pendorong utama untuk mengangkat pertumbuhan ekonomi dan memperkuat kelas menengah sebagai tulang punggung perekonomian Indonesia.
"Bila kita ingin melihat kelas menengah tumbuh, kita harus menciptakan lebih banyak lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan masyarakat. Kuncinya tetap ada pada investasi," ujar Bambang dalam acara Bloomberg Technoz Economic Outlook di Jakarta. Dengan masuknya lebih banyak investasi ke Indonesia, diharapkan akan tercipta lebih banyak peluang ekonomi yang dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat dan memperluas kelas menengah, yang pada gilirannya akan menggerakkan roda ekonomi Indonesia lebih cepat.