Perang Dagang AS-China Jilid Kedua: Dampaknya Terhadap Ekonomi Indonesia dan Peluang yang Bisa Dimanfaatkan

photo author
Marlon Mondong, Sulut Zone
- Selasa, 4 Februari 2025 | 09:03 WIB
Perang Dagang Amerika vs China
Perang Dagang Amerika vs China

Sulutzonecom -- Amerika Serikat (AS) dan China kembali terlibat dalam perang dagang yang semakin memanas. Kali ini, Presiden Donald Trump resmi menandatangani kebijakan tarif baru pada Sabtu (1/2/2025) yang menaikkan tarif impor hingga 25% untuk barang dari Kanada dan Meksiko, serta 10% untuk produk-produk asal China. Kebijakan proteksionis ini diklaim oleh Trump sebagai upaya untuk melindungi rakyat Amerika dan mencegah aliran narkoba serta imigran ilegal.

Kenaikan tarif ini mulai berlaku pada Selasa (4/2/2025), namun belum ada kepastian kapan kebijakan ini akan dicabut. Pejabat senior AS menyebutkan evaluasi kebijakan akan dilakukan, dengan kemungkinan tarif dapat terus meningkat jika negara-negara terdampak mengambil langkah balasan. Meksiko dan Kanada, yang merupakan mitra dagang utama AS, tidak tinggal diam dan langsung menanggapi kebijakan Trump dengan mengenakan tarif balasan. China juga tidak ketinggalan dan mengancam akan mengambil langkah-langkah balasan untuk melindungi kepentingan ekonominya.

Dampaknya Terhadap Ekonomi Indonesia
Lantas, bagaimana dampak kebijakan perang dagang ini terhadap Indonesia? Piter Abdullah, Direktur Eksekutif Segara Research Institute, mengatakan perang dagang ini dapat mengurangi permintaan global, yang tentu akan mengganggu perekonomian dunia, termasuk Indonesia. Ekspor Indonesia yang sudah mengalami tantangan, diperkirakan akan semakin tertekan dengan penurunan permintaan dari negara-negara yang terdampak perang tarif.

Piter menambahkan, meski perang dagang ini berpotensi memperburuk kondisi perekonomian Indonesia, negara ini memiliki fundamental ekonomi yang cukup kuat untuk menghadapinya, seperti saat Indonesia berhasil melewati krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19.

Bhima Yudhistira, Direktur Eksekutif Celios, mengingatkan bahwa tarif yang meluas hingga ke negara-negara seperti Kanada dan Meksiko berpotensi membawa dampak buruk bagi industri dalam negeri Indonesia. Hal ini bisa menyebabkan produk-produk China, Kanada, dan Meksiko membanjiri pasar Indonesia, yang pada gilirannya mengancam daya saing produk-produk lokal, terutama bagi UMKM. PHK massal bisa saja terjadi jika industri Indonesia kesulitan bersaing.

Meski demikian, ada peluang bagi Indonesia untuk memanfaatkan situasi ini. Benny Soetrisno, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Ekspor Indonesia (GPEI), menyebutkan bahwa Indonesia bisa mendapatkan keuntungan dalam bentuk harga barang ekspor yang lebih kompetitif, karena tarif yang lebih rendah dibandingkan barang dari negara-negara yang dikenakan tarif AS. Selain itu, Indonesia juga berpotensi menjadi tujuan investasi dari China, karena produk-produk yang dihasilkan di Indonesia bisa dipasarkan ke AS dengan status "country of origin" Indonesia.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan bahwa dinamika global yang terjadi, termasuk perang dagang ini, tentu akan mempengaruhi perkembangan perekonomian Indonesia. Namun, tantangan tersebut bisa diatasi dengan kebijakan yang tepat dan kerja sama yang baik antara pemerintah dan sektor swasta.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Marlon Mondong

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X