MANADO, SULUTZONE.COM – Kerusuhan yang mengguncang Nepal dan mengakibatkan ambruknya pemerintahan sipil menjadi peringatan serius bagi para pejabat publik, elit politik, serta keluarganya di Indonesia.
Pemicu utama kerusuhan tersebut adalah kemarahan publik terhadap praktik korupsi dan gaya hidup mewah para elit yang sangat kontras dengan kesulitan ekonomi masyarakat.
Menanggapi fenomena ini, pengamat politik dan pemerintahan dari Sulawesi Utara, Taufik Tumbelaka, meminta para pejabat dan elit politik, khususnya di Sulut, untuk menghentikan kebiasaan pamer harta atau "flexing".
Menurutnya, ketidakpekaan sosial dapat memicu kerentanan dan ketidakstabilan.
"Melihat apa yang terjadi di Nepal, kita harusnya sadar. Kerusuhan bisa dipicu oleh hal-hal yang sepele, tetapi akarnya adalah kekecewaan masyarakat yang menumpuk. Pamer gaya hidup mewah, hobi mahal, dan koleksi barang mewah di saat banyak orang sedang susah, itu sama saja memantik api," ujar Taufik Tumbelaka.
Ia menegaskan, bukan hanya para pejabat atau elit politik saja yang harus introspeksi, melainkan juga anak dan keluarga mereka.
"Jangan sampai anak-anak pejabat atau elit politik ikut-ikutan pamer kemapanan ekonomi di media sosial. Itu bisa melukai hati masyarakat yang sedang berjuang secara sosial ekonomi," tambahnya.
Pentingnya Empati di Tengah Keterpurukan Ekonomi
Taufik Tumbelaka menyoroti bahwa banyak masyarakat, terutama di tengah kondisi ekonomi yang sulit, menaruh perhatian besar pada perilaku para pemimpin dan keluarganya.
Ketika mereka melihat pejabat atau keluarganya hidup bermewah-mewahan, sementara mereka sendiri harus berhemat untuk kebutuhan dasar, hal itu menciptakan jurang yang dalam antara rakyat dan elit.
"Pemerintah, pejabat, dan elit politik adalah pelayan rakyat. Gaji dan kekayaan mereka sebagian besar berasal dari keringat rakyat, dari pajak yang dibayarkan. Sikap pamer adalah bentuk pengkhianatan terhadap kepercayaan publik," kata Tumbelaka.
Ia menekankan pentingnya menumbuhkan rasa kepekaan dan empati, di mana pejabat seharusnya menjadi teladan dalam kesederhanaan.
Makan Mie Ayam Harga Rp15 Ribu, Sebuah Pesan Simbolis
Dalam wawancara singkat, Taufik Tumbelaka menyampaikan pandangannya sambil menikmati makan malam sederhana, mie ayam seharga Rp15 ribu.