SULUTZONE.COM – Bali selama ini masyhur dengan julukan Pulau Dewata yang penuh senyum dan keramahan.
Namun, sebuah video viral baru-baru ini mengungkap realita pahit yang mencoreng citra tersebut.
Keramahan itu seolah memiliki "syarat dan ketentuan": hangat kepada turis asing (bule), namun dingin bahkan "ganas" terhadap wisatawan domestik.
Kejadian kurang mengenakkan ini dialami oleh seorang ibu asal Kalimantan saat berada di Pelabuhan Padangbai, Bali.
Niat hati ingin menikmati liburan tenang bersama keluarga, ia justru harus mengelus dada lantaran mendapat perlakuan kasar dari oknum setempat.
Baca Juga: Tanpa Pemberitahuan! Pergantian Pala Jaga 5 di Pineleng Satu Tuai Kontroversi, Warganet Heboh
Kronologi bermula saat wisatawan tersebut hendak meninggalkan pelabuhan.
Ia dijemput oleh mobil pribadi milik keluarganya, bukan taksi daring atau angkutan ilegal.
Namun, langkahnya terhenti ketika sekelompok pria lokal menghadang kendaraan tersebut.
Oknum tersebut melarang sang ibu naik dengan dalih aturan lokal yang menyatakan "mobil luar tidak boleh mengambil penumpang".
Korban kabarnya dipaksa pindah ke jasa travel lokal atau diwajibkan membayar sejumlah uang jika ingin tetap menggunakan mobil pribadinya.
Baca Juga: Lewat Didi Roa, Etsuko Kitchen Bantu Korban Banjir Bandang Sitaro
Yang memicu kegeraman netizen adalah arogansi oknum dalam video tersebut.
Dengan nada tinggi, pria itu mengklaim bahwa tindakan mereka didasari oleh aturan organisasi yang berbadan hukum.
"Kami di sini punya organisasi, berbadan hukum!" teriak oknum tersebut dalam rekaman video yang beredar.
Sikap sombong ini seolah menunjukkan bahwa aturan kelompok tertentu berada di atas undang-undang negara yang menjamin kebebasan warga negara untuk menjemput keluarga sendiri.
Bahkan, oknum tersebut dengan berani menantang korban untuk melaporkan kejadian itu ke pihak kepolisian.
Baca Juga: Babinsa Serka Frans Sasoeng Jalin Sinergi Kuat dengan Guru SD Tuabatu Talaud, Pastikan Lingkungan Belajar Aman dan Kondusif
Fenomena ini memicu debat panas di media sosial mengenai "Mental Inlander" yang masih mendarah daging di sektor pariwisata.
Wisatawan domestik sering kali dianggap sebagai "mangsa" empuk untuk diperas, sementara turis asing dipuja-puja dan dilayani dengan standar ganda.
Banyak netizen menyuarakan kekhawatiran bahwa jika praktik premanisme berkedok organisasi ini terus dibiarkan, Bali akan kehilangan pesonanya di mata warga sendiri.
Artikel Terkait
Sepanjang Periode Nataru, PLN Catat Konsumsi Listrik EV Melonjak Jadi 479%
Warga Musti Tahu : Kenaikan Pajak Kendaraan Ternyata Dilancarkan oleh DPRD Sulut? Begini Alurnya
Babinsa Serka Hudson Turun Tangan: Gotong Royong Panaskan Semangat Warga Kalongan Talaud Bangun Bangsal Syukuran Awal Tahun!
TNI-Masyarakat Miangas Kunci Tahun 2025 dengan Doa dan Cakalele, Sambut 2026 Penuh Harapan."
Babinsa Serka Frans Sasoeng Jalin Sinergi Kuat dengan Guru SD Tuabatu Talaud, Pastikan Lingkungan Belajar Aman dan Kondusif
Lobby Kantor Gubernur Sulut Disulap Jadi Posko Bantuan Korban Banjir Bandang Sitaro
Psikolog Sebut Permasalahan Keluarga datang dari Faktor Ekonomi
Siaga Bencana! Babinsa Talaud Turun ke Warga Miangas, Beri Peringatan Dini Banjir dan Longsor
Lewat Didi Roa, Etsuko Kitchen Bantu Korban Banjir Bandang Sitaro
Tanpa Pemberitahuan! Pergantian Pala Jaga 5 di Pineleng Satu Tuai Kontroversi, Warganet Heboh