Benhard Holderman: Sulut Kalah Jauh dari Toraja

photo author
Dedy Dagomes Manlesu, Sulut Zone
- Selasa, 15 Juli 2025 | 11:17 WIB
Bernard Holdemar (Istinewa)
Bernard Holdemar (Istinewa)

MANADO, sulutzonecom - Ketua Umum Genpi Minut, Benhard Holderman, menyampaikan kritik tajam terhadap kondisi pariwisata berbasis budaya di Sulawesi Utara. Dalam sebuah wawancara eksklusif dengan Sulutzone.com, Holderman menegaskan bahwa Sulawesi Utara kalah jauh dari Tana Toraja dalam memanfaatkan kekayaan budayanya untuk sektor pariwisata.

Baca Juga: Terobosan Udara: Penerbangan Langsung Manado-Toraja Buka Gerbang Wisata Baru di Indonesia Timur!

Menurut Holderman, yang akrab disapa Tuama, kekalahan ini bukan tanpa alasan. Ia menuding adanya "tangan-tangan jahil pemerintah" yang menjadikan ritus dan tradisi suci hanya sebagai seremonial belaka. "Padahal ini adalah tradisi suci, anugerah yang diberikan Sang Khalik kepada leluhur dan sampai generasi kita ini," ujarnya.

Ia mencontohkan, praktik pemberian gelar adat dan upacara adat yang diatur sedemikian rupa untuk kepentingan sekelompok orang, alih-alih muncul secara lahiriah dari kehidupan masyarakat adat.

 

Holderman berpendapat bahwa keterlibatan para pemangku jabatan kerap mendiskreditkan nilai-nilai kearifan lokal. "Sulut sekarang ini kehilangan pijakan, identitas, serta jati diri," tegasnya.

Baca Juga: Optimis Dengan Konektivitas Wisata Manado-Toraja, Wagub Victor : Kita Punya Kesamaan

Ia membandingkan dengan Tana Toraja, di mana tradisi menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat dan dijaga bersama. Hal ini, menurutnya, menjadi bukti konkret mengapa pariwisata berbasis budaya di Toraja jauh lebih maju.

 

"Bagaimana dengan Sulawesi Utara? Adakah tradisi yang dipelihara bersama? Situs-situs penanda peradaban seperti waruga dan lain-lain dibongkar mengatasnamakan pembangunan," kritiknya. Ia merasa keresahannya mewakili seluruh masyarakat adat di Sulawesi Utara.

 

Holderman berpesan kepada pemerintah agar membiarkan masyarakat adat menjalankan tradisinya. "Kalau pun ingin membantu, bantu untuk jaga bersama bukan mengatur tata caranya (setingan)," pintanya.

 

Ia mengakui kecintaannya pada daerah sendiri, namun meminta agar semua pihak tidak munafik. "Buka mata, buka telinga, tradisi itu bisa menunjang sektor pariwisata," serunya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Dedy Dagomes Manlesu

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X