Kata Aktivis Lingkungan Soal Sampah Pemilu

photo author
Stefanus Goni, Sulut Zone
- Rabu, 3 April 2024 | 20:55 WIB
Bawaslu Tomohon saat Membersihkan Baliho Kampanye. (Steven)
Bawaslu Tomohon saat Membersihkan Baliho Kampanye. (Steven)

Sulutzone.com - OPINI, Pemilu 2024 dalam konteks ekologi adalah momen dimana pentingnya mempertimbangkan hubungan antara politik, kebijakan, dan lingkungan alam.

Ini adalah kesempatan bagi para pemilih, kandidat, dan pertai politik untuk memperhatikan isu-isu lingkungan yang mendesak, serta menetapkan agenda yang fokus pada perlindungan lingkungan dan keinginan.

Pertama-tama, pemilu 2024 harus memberikan perhatian yang lebih besar pada isu-isu lingkungan seperti perubahan iklim, pelestarian sumber daya alam, keanekaragaman hayati, dan masalah-masalah lingkungan lainnya.

Kandidat dan partai politik harus memiliki rencana yang kongkrit dan terukur untuk mengatasi krisis lingkungan ini, yang meliputi langkah-langkah yang mengurangi emisi karbon, mendukung energi terbarukan, melindungi ekosistem, serta mempromosikan tindakan ramah lingkungan dalam industri dan kegiatan sehari-hari.

Penting juga bagi pemilu 2024 untuk membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya lingkungan dan dampak dari kebijakan politik terhadap ekosistem.

Kampanye informasi dan pendidikan yang menyoroti keterkaitan antara politik dan lingkungan harus diutamakan agar pemilih dapat membuat keputusan yang didasarkan pada pemahaman yang lebih baik tentang isu-isu lingkungan yang dihadapi.

Partisipasi aktif dari masyarakat sipil, LSM lingkungan, dan pakar-pakar lingkungan dalam proses pemilihan dan pengembangan kebijakan juga penting.

Pelibatan para ahli dalam penyusunan kebijakan akan membantu memastikan bahwa keputusan politik yang di ambil mempertimbangkan saran dari mereka yang memahami kehidupan ekologi.

Dalam pemilu 2024 lingkungan bisa terdampak imbas politik yang sangat signifikan. Dalam konteks ekologi, pemilu dapat membawa dampak baik maupun buruk terhadap lingkungan alam kita.

1. Pencemaran lingkungan.

Kampanye politik seringkali melibatkan penggunaan besar-besaran media cetak, elektronik, dan bahan promosi lainnya yang dapat menyebabkan peningkatan sampah dan limbah. Cetakan spanduk, poster, dan pamflet yang dibagikan di mana-mana dapat meningkatkan limbah plastik dan kertas jika tidak dikelola dengan baik.

2. Konsumsi energi.

Kampanye politik memerlukan banyak energi, terutama dalam hal transportasi untuk menggelar acara kampanye yang berlokasi di berbagai wilayah. Perjalanan kandidat, staff kampanye, dan pendukung menggunakan kendaraan bermotor yang menghasilkan emisi karbon dan polusi udara.

 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Stefanus Goni

Tags

Rekomendasi

Terkini

X