SulutZone.com - Pada hari Rabu, (08/05/2024) Paus Fransiskus berbicara tentang keutamaan teologis dari harapan dalam Audiensi Umum.
Melalui refleksinya, beliau menjelaskan bahwa harapan adalah jawaban yang kita tawarkan kepada hati kita saat kita merenungkan tentang nasib akhir kita.
Bapa Suci berfokus pada kebajikan teologis kedua, yaitu harapan, yang menjadi tanggapan terhadap pertanyaan tentang makna hidup.
Baca Juga: Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman Rencanakan Pembangunan Klaster Pertanian Modern di Jawa Barat
Menurut pandangan Bapa Suci, jawaban negatif terhadap pertanyaan ini akan membawa pada kesedihan.
"Jika perjalanan hidup tidak ada maknanya, jika pada awalnya dan di awal, akhirnya tidak ada apa-apa, lalu kita bertanya pada diri sendiri mengapa kita harus berjalan", kata Paus.
Tanpa harapan, banyak orang menyerah dalam hidup dan semua kebajikan lainnya berisiko hancur dan berakhir menjadi abu.
Baca Juga: Mentan Gencarkan Program Pompanisasi.
Beliau kemudian mengutip kata-kata Paus Benediktus XVI, Hanya ketika masa depan sudah pasti sebagai sebuah realitas positif barulah kita bisa hidup dalam kehidupan yang lebih baik saat ini juga.
Menurut Paus Fransiskus, umat Kristen sadar bahwa harapan tidak datang dari kemampuan mereka sendiri.
Jika mereka percaya akan masa depan, itu karena Kristus telah mati dan bangkit kembali serta memberikan Roh-Nya kepada kita.
Baca Juga: Menteri Pertanian Ajak Wartawan Bantu Awasi Pendistribusian Pupuk Subsidi
Harapan adalah suatu kebajikan "teologis" karena “harapan tidak berasal dari kita… tetapi merupakan anugerah yang datang langsung dari Tuhan.”
Dalam kutipan yang terkenal dari Santo Paulus, “Jika Kristus belum dibangkitkan, maka sia-sialah imanmu dan kamu masih berdosa”, Paus Fransiskus membandingkan antara iman dan ketidakpercayaan.