Mengenal Tradisi Hindu: Dari Keheningan Nyepi hingga Kemeriahan Tahun Baru Saka di Dunia

photo author
Dedy Dagomes Manlesu, Sulut Zone
- Kamis, 19 Maret 2026 | 08:50 WIB
Ilustrasi Tahun Baru Sakka (Dok. Ilustrasi)
Ilustrasi Tahun Baru Sakka (Dok. Ilustrasi)

RAGAM - ​Perayaan Tahun Baru Saka merupakan salah satu momen paling sakral bagi umat Hindu di seluruh dunia. 

Namun, tahukah Anda bahwa cara merayakannya bisa sangat berbeda antara satu negara dengan negara lainnya?

Di Indonesia, kita mengenalnya dengan hari raya Nyepi, sebuah tradisi unik yang menjadikan Pulau Bali "mati" selama 24 jam.

​Artikel ini akan mengupas tuntas bagaimana umat Hindu merayakan pergantian tahun dalam kalender Saka, mulai dari filosofi keheningan di Nusantara hingga festival meriah di belahan dunia lain.

Baca Juga: Gubernur Yulius Ron Sulut Tinjau Pelaksaaan Gerakan Pangan Murah : Pastikan Distribusi Aman

Apa Itu Tahun Baru Saka?

Tahun Baru Saka didasarkan pada penanggalan Saka yang berasal dari India kuno. Kalender ini mulai digunakan sekitar tahun 78 Masehi.

Di Indonesia, sistem penanggalan ini dibawa oleh para pendeta dan pedagang dari India, yang kemudian berasimilasi dengan budaya lokal, melahirkan tradisi yang kita kenal sekarang.

​Bagi umat Hindu, pergantian tahun bukan sekadar perayaan angka, melainkan momen untuk pembersihan diri, penghormatan kepada alam semesta, dan sinkronisasi antara Bhuana Alit (diri manusia) dengan Bhuana Agung (alam semesta).

Baca Juga: Remaja GMIM Tunjukkan Aksi Nyata, Peduli Lingkungan Dimulai dari Langowa

Nyepi: Keunikan Tradisi Hindu di Indonesia

​Berbeda dengan perayaan tahun baru pada umumnya yang identik dengan kembang api, Nyepi di Indonesia—khususnya Bali—dirayakan dengan kesunyian total.

Ini adalah satu-satunya momen di dunia di mana sebuah wilayah modern menghentikan seluruh aktivitasnya secara sukarela.

​Empat Pantangan Utama (Catur Brata Penyepian)

​Umat Hindu di Indonesia menjalankan empat aturan ketat selama 24 jam penuh:

  • Amati Geni: Larangan menyalakan api atau lampu (termasuk api amarah).
  • Amati Karya: Larangan bekerja atau melakukan aktivitas fisik.
  • Amati Lelunganan: Larangan bepergian keluar rumah.
  • Amati Lelanguan: Larangan mencari hiburan atau bersenang-senang.

​Tujuannya adalah untuk melakukan introspeksi diri (Mulat Sarira) dan memberikan waktu bagi bumi untuk "beristirahat" dari polusi dan eksploitasi manusia.

Baca Juga: Sinergi TNI-Polri Perketat Pengamanan Pelabuhan Melonguane: Jamin Kenyamanan Mudik Idul Fitri 1447 H

Perayaan Tahun Baru Saka di Berbagai Belahan Dunia

​Meskipun akarnya sama, umat Hindu di luar Indonesia merayakan Tahun Baru Saka dengan suasana yang jauh lebih meriah. Berikut adalah beberapa variasinya:

​1. India (Ugadi dan Gudi Padwa)

​Di negara asalnya, tahun baru ini dirayakan dengan penuh warna. Di wilayah Maharashtra, warga merayakan Gudi Padwa dengan mengibarkan bendera sutra di depan rumah.

Sementara di India Selatan, perayaan Ugadi identik dengan sajian makanan yang memiliki enam rasa, melambangkan berbagai fase kehidupan yang harus dijalani dengan syukur.

​2. Nepal (Bisket Jatra)

​Di Nepal, perayaan tahun baru ini melibatkan festival besar di jalanan.

Warga menarik kereta kayu raksasa yang membawa patung dewa-dewi dalam sebuah prosesi yang riuh dan penuh semangat komunitas.

​3. Asia Tenggara (Songkran dan Thingyan)

​Meski kini lebih dikenal sebagai hari raya umat Buddha, tradisi tahun baru di Thailand (Songkran) dan Myanmar (Thingyan) berakar dari astronomi Hindu-Saka.

Mereka merayakannya dengan festival air massal sebagai simbol penyucian diri.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Dedy Dagomes Manlesu

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Ditengah Pergumulan : Kekuatan GMIM Hanya Doa

Senin, 22 Juni 2026 | 11:42 WIB
X