2. Dr. dr. H. R Soeharto
Keikutsertaan dalam menyelamatkan bendera pusaka merah putih, pendirian organisasi Ikatan Dokter Indonesia, pendidikan organisasi Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) , pembangunan proyek mercusuar dan objek vital masa presiden Soekarno (Pembangunan Departemen Store Sarina, Pembangunan Monumen Nasional dan pembangunan masjid Istiqlal), pendirian Rumah Sakit Jakarta dan pendirian Perhimpunan Dokter Keluarga Indonesia (PDKI).
Namanya diabadikan sebagai gedung dikantor Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia, Salah satunya di kabupaten Klaten memiliki ruang koleksi khusus memoralibia di Museum Joang 45.
Baca Juga: Penasaran Dengan Cerita Rakyat Terjadinya Danau Toba?Kunjungi Objek Wisata di Desa Siallagan Ini
3. dr Raden Rubini Natawisastra
Menjalankan misi kemanusiaan sebagai dokter keliling di daerah terpencil dan pedalaman Kalbar.
Tugas ini dilakukan dengan melayani penduduk tanpa membeda- bedakan status baik orang kaya maupun miskin.
Memasuki bidang politik sejak masuk sebagai anggota Parindra pada tahun 1930 dan terus berkembang gagasan dan tindakan melawan penjajah baik terhadap Belanda maupun Jepang.
Sikap gigih melawan penjajah tersebut tak pernah goyah sampai ajal merenggut bersama sang istri Amelia Rubini karena dihukum mati oleh Jepang.
Namanya diabadikan sebagai salah satu jalan dan Rumah Sakit di Kabupaten Mempawah Kalimantan Barat.
4. K. H Ahmad Sanusi
Salah satu tokoh pendidikan yang secara tidak langsung melibatkan dirinya kepada politik kebangsaan.
Namanya mulai menjadi perhatian penguasa Kolonial ketika ia membela nama baik Sarekat Islam (SI) pada tahun 1913 ketika masih berada di Mekkah dalam tulisannya Nahratut I dharam K. H Ahmad Sanusi masuk menjadi salah satu anggota BPUPKI yang memasuki konsep imamat (demokrasi) sebagai landasan bentuk pemerintahan Indonesia yang akan dimerdekakan.
Baca Juga: Makna Dibalik Kalimat 'Hantu Laut' Denjaka TNI Angkatan Laut