TAPANULI TENGAH – Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) pasca-bencana berada dalam kondisi darurat kemanusiaan dengan lumpuhnya infrastruktur dan krisis logistik akut.
Tanzielal Aziezir, Wartawan signal24.id yang sempat terjebak selama enam hari di lokasi, melaporkan situasi mencekam di tengah minimnya bantuan.
Menurut laporan Aziezir yang berhasil melewati jalur darat pada 1 Desember, seluruh wilayah Tapteng dan kota sekitar mengalami mati listrik total dan ketiadaan jaringan komunikasi.
Baca Juga: Masih Terisolir, Kepala BNPB Sebut Tapanuli Tengah dan Sibolga Perlu Perhatian Serius
Krisis BBM dilaporkan parah. Bahan bakar langka, dengan harga melonjak hingga Rp 50.000 per liter dan langsung habis.
Masyarakat juga menghadapi krisis pangan; stok beras tidak ada, gas menghilang, dan warga terpaksa menggunakan kayu bakar dari sisa reruntuhan untuk memasak.
Kondisi ekonomi di lokasi sangat terganggu, ditandai dengan kenaikan harga komoditas ekstrem.
Harga cabai dilaporkan menembus angka Rp 400.000 per kilogram.
Minimnya bantuan yang tiba di tengah kelangkaan kebutuhan pokok memicu ketegangan sosial.
"Bantuan hampir tidak ada, alhasil masyarakat menjarah Indomaret," kata Aziezir, menggambarkan situasi malam yang mencekam.
Pemerintah daerah diminta segera meningkatkan penyaluran bantuan logistik dan mempercepat pemulihan infrastruktur dasar untuk mengatasi darurat kemanusiaan di Tapteng.
Dede