JAKARTA — Perburuan terhadap Pangeran Cendana, Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto, pada akhir tahun 2001 menjadi salah satu operasi intelijen terbesar dan paling bersejarah yang pernah dilakukan oleh Kepolisian Negara Republik Indonesia.
Pelarian Tommy bermula saat dirinya mangkir dari eksekusi hukuman kasus korupsi tukar guling antara Bulog dan PT Goro. Situasi keamanan nasional semakin memanas tatkala putra bungsu Presiden ke-2 RI Soeharto tersebut terbukti mendalangi pembunuhan berencana terhadap Hakim Agung Syafiuddin Kartasasmita di tengah masa pelariannya.
Kebocoran Informasi dan Langkah Radikal
Sebelumnya, upaya penangkapan Tommy sempat mengalami jalan buntu pada masa kepemimpinan dua Kapolda Metro Jaya terdahulu. Kegagalan tersebut diduga kuat dipicu oleh tingginya risiko kebocoran informasi internal kepolisian yang membuat pergerakan tim pemburu selalu tercium oleh jaringan pelarian.
Titik balik perburuan terjadi saat Komjen Pol (Purn) Sofjan Jacoeb menjabat sebagai Kapolda Metro Jaya. Memahami adanya kebocoran di tingkat internal, Sofjan mengambil keputusan strategis dan radikal untuk merombak total struktur operasi pengajaran.
Sumpah Al-Qur'an dan Tim Rahasia
Demi menjamin integritas dan kerahasiaan misi, Sofjan Jacoeb membentuk unit intelijen rahasia—termasuk pendayagunaan tim khusus seperti Tim Kobra dan unit operasi Black Cat.
Sofjan bahkan mengambil sumpah Kompol Tito Karnavian (yang saat itu menjabat Kasat Reserse Umum Polda Metro Jaya) di bawah kitab suci Al-Qur'an. Sumpah ini dilakukan guna memastikan bahwa seluruh alur informasi dan pergerakan perburuan tidak bocor sedikit pun ke luar.
"Operasi ini menuntut kerahasiaan tingkat tinggi. Sumpah integritas dilakukan demi melumpuhkan jaringan pelarian yang terstruktur rapi," ungkap rekam sejarah operasi tersebut.
Akhir Pelarian di Bintaro
Strategi rahasia ini membuahkan hasil manis. Hanya dalam hitungan bulan setelah pelacakan ketat, tim yang dipimpin Tito Karnavian berhasil mengendus keberadaan Tommy yang menyamar dengan nama Ibrahim.
Pada 28 November 2001, tim sukses mengepung dan meringkus Tommy Soeharto di sebuah rumah tinggal di kawasan Bintaro, Jakarta Selatan. Penangkapan tanpa perlawanan ini menyudahi pelarian Pangeran Cendana yang berlangsung lebih dari satu tahun.
Catatan Sejarah Perburuan Tommy Soeharto (2001)
| Parameter Operasi | Detail Keterangan |
| Kasus Utama | Korupsi Bulog-Goro & Penembakan Hakim Agung Syafiuddin |
| Penanggung Jawab Operasi | Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Sofjan Jacoeb |
| Komandan Lapangan Tim Khusus | Kompol Tito Karnavian (Tim Kobra) |
| Taktik Kunci | Pembentukan unit rahasia & Sumpah Al-Qur'an cegah kebocoran |
| Waktu Penangkapan | 28 November 2001 di Bintaro, Jakarta |
Keberhasilan operasi ini tidak hanya mengakhiri pelarian salah satu buronan paling dicari dalam sejarah Indonesia, tetapi juga menjadi batu loncatan karier kepolisian bagi jajaran perwira yang terlibat di dalamnya.
Artikel Terkait
Inovasi Pengawasan Perbatasan: Wabup Anisya Bambungan Luncurkan SITUNA SIGAP & Desa Binaan Imigrasi di Bowombaru
RUU Perampasan Aset: Komisi III DPR Masukkan 13 Jenis Tindak Pidana Kunci
Kilas Balik Tragedi Badai Katrina 2005: Tanggul Jebol, New Orleans Tenggelam dan 1.800 Warga Tewas
Polda Metro Jaya Dalami Dugaan Keterlibatan Ormas dalam Kerusuhan Jakarta 27 Agustus
Hasil Al Khaleej vs Al Hilal 1-5: Diwarnai Drama Penalti Konyol Kalidou Koulibaly
Gunung Merapi Erupsi Luncurkan Awan Panas 2.000 Meter, Status Masih Siaga Level III
Tingkatkan Kesiapsiagaan Pelayanan, Kapolres Talaud AKBP Dwi Yatmoko, STP, S.I.K, M.I.K Pimpin Jalan Sehat Personel
Hasil Liga Prancis: PSG Selamat dari Kekalahan Usai Imbangi Lille Berkat Gol Telat di Masa Injury Time
Sempat Cetak Gol Bunuh Diri, Justin Hubner Tetap Bawa Fortuna Sittard Tekuk Groningen 3-2
Dirjen Imigrasi Pimpin Patroli Dharma Dewata di Canggu, 5 WNA Overstay Diamankan