Operasi Rahasia Penangkapan Tommy Soeharto 2001: Strategi Sofjan Jacoeb dan Sumpah Tim Khusus

photo author
Dedy Dagomes Manlesu, Sulut Zone
- Sabtu, 29 Agustus 2026 | 15:37 WIB

JAKARTA — Perburuan terhadap Pangeran Cendana, Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto, pada akhir tahun 2001 menjadi salah satu operasi intelijen terbesar dan paling bersejarah yang pernah dilakukan oleh Kepolisian Negara Republik Indonesia.

Pelarian Tommy bermula saat dirinya mangkir dari eksekusi hukuman kasus korupsi tukar guling antara Bulog dan PT Goro. Situasi keamanan nasional semakin memanas tatkala putra bungsu Presiden ke-2 RI Soeharto tersebut terbukti mendalangi pembunuhan berencana terhadap Hakim Agung Syafiuddin Kartasasmita di tengah masa pelariannya.

Kebocoran Informasi dan Langkah Radikal

Sebelumnya, upaya penangkapan Tommy sempat mengalami jalan buntu pada masa kepemimpinan dua Kapolda Metro Jaya terdahulu. Kegagalan tersebut diduga kuat dipicu oleh tingginya risiko kebocoran informasi internal kepolisian yang membuat pergerakan tim pemburu selalu tercium oleh jaringan pelarian.

Titik balik perburuan terjadi saat Komjen Pol (Purn) Sofjan Jacoeb menjabat sebagai Kapolda Metro Jaya. Memahami adanya kebocoran di tingkat internal, Sofjan mengambil keputusan strategis dan radikal untuk merombak total struktur operasi pengajaran.

Sumpah Al-Qur'an dan Tim Rahasia

Demi menjamin integritas dan kerahasiaan misi, Sofjan Jacoeb membentuk unit intelijen rahasia—termasuk pendayagunaan tim khusus seperti Tim Kobra dan unit operasi Black Cat.

Sofjan bahkan mengambil sumpah Kompol Tito Karnavian (yang saat itu menjabat Kasat Reserse Umum Polda Metro Jaya) di bawah kitab suci Al-Qur'an. Sumpah ini dilakukan guna memastikan bahwa seluruh alur informasi dan pergerakan perburuan tidak bocor sedikit pun ke luar.

"Operasi ini menuntut kerahasiaan tingkat tinggi. Sumpah integritas dilakukan demi melumpuhkan jaringan pelarian yang terstruktur rapi," ungkap rekam sejarah operasi tersebut.

Akhir Pelarian di Bintaro

Strategi rahasia ini membuahkan hasil manis. Hanya dalam hitungan bulan setelah pelacakan ketat, tim yang dipimpin Tito Karnavian berhasil mengendus keberadaan Tommy yang menyamar dengan nama Ibrahim.

Pada 28 November 2001, tim sukses mengepung dan meringkus Tommy Soeharto di sebuah rumah tinggal di kawasan Bintaro, Jakarta Selatan. Penangkapan tanpa perlawanan ini menyudahi pelarian Pangeran Cendana yang berlangsung lebih dari satu tahun.

Catatan Sejarah Perburuan Tommy Soeharto (2001)

Parameter Operasi Detail Keterangan
Kasus Utama Korupsi Bulog-Goro & Penembakan Hakim Agung Syafiuddin
Penanggung Jawab Operasi Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Sofjan Jacoeb
Komandan Lapangan Tim Khusus Kompol Tito Karnavian (Tim Kobra)
Taktik Kunci Pembentukan unit rahasia & Sumpah Al-Qur'an cegah kebocoran
Waktu Penangkapan 28 November 2001 di Bintaro, Jakarta

Keberhasilan operasi ini tidak hanya mengakhiri pelarian salah satu buronan paling dicari dalam sejarah Indonesia, tetapi juga menjadi batu loncatan karier kepolisian bagi jajaran perwira yang terlibat di dalamnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Dedy Dagomes Manlesu

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X