Di Balik Tali Gantung Evia Maria : Tersingkap Sang Dosen Predator Seksual di Unima

photo author
Dedy Dagomes Manlesu, Sulut Zone
- Jumat, 2 Januari 2026 | 12:55 WIB
Kematian Evia Maria jadi Pembuka Jalan Terang di Unima (Dok. istimewa)
Kematian Evia Maria jadi Pembuka Jalan Terang di Unima (Dok. istimewa)

sulutzone.com -- Saat Menjelang pergantian tahun menuju 2026, Universitas Negeri Manado (Unima) justru didera badai kelam yang menyita perhatian publik dan menjadi noda hitam bagi institusi pendidikan tinggi di Sulawesi Utara.

Kepergian tragis seorang mahasiswi semester tujuh berinisial E alias Evi, yang ditemukan meninggal dunia akibat gantung diri di sebuah rumah kos di Kota Tomohon, beberapa waktu lalu, telah membuka kotak pandora mengenai berbagai borok sistemik yang selama ini tersembunyi di balik dinding kampus.

Kejadian ini bukan sekadar berita duka biasa, melainkan sebuah tragedi yang memicu kemarahan kolektif karena melibatkan dugaan kekerasan seksual oleh oknum dosen, serta tudingan adanya upaya pembangunan narasi institusi untuk menutupi kebenaran di tengah tekanan publik yang masif.

Kematian Evi terasa sangat ironis mengingat secara akademik ia adalah mahasiswi aktif yang sedang berada di puncak perjuangannya menyelesaikan studi.

Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi (FIPP) Unima, Dr. Aldjon Dapa, mengakui bahwa korban merupakan salah satu peserta yang telah terdaftar untuk mengikuti ujian proposal skripsi pada 6 Januari 2026 mendatang.

Namun, harapan untuk merayakan pencapaian akademik tersebut terkubur bersama jasadnya, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga yang mengenalnya sebagai sosok pintar dan religius.

Penjelasan resmi dari pihak dekanat dan rektorat berusaha menepis adanya unsur pembiaran dalam kasus ini dengan mengungkapkan bahwa korban sebenarnya telah melapor ke Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Perguruan Tinggi (PPKPT) Unima pada 19 Desember 2025.

Pihak kampus mengklaim bahwa prosedur penanganan sudah berjalan dan tim kerja Satgas sempat merencanakan pengambilan kesaksian pada 22 Desember, namun pertemuan tersebut batal atas permintaan korban yang ingin pulang ke kampung halaman terlebih dahulu.

Meskipun pihak universitas melalui Humas Titof Tulaka menjanjikan sanksi terberat berupa pemecatan bagi oknum dosen jika terbukti bersalah, pernyataan tersebut tidak serta-merta meredam gejolak di masyarakat.

Ketidakpercayaan publik semakin memuncak setelah sebuah unggahan emosional dari akun Facebook bernama Rio viral di grup komunitas lokal.

Rio, yang menggambarkan kedekatannya dengan almarhumah, secara tajam mempertanyakan mengapa seorang mahasiswi yang dikenal sangat taat beribadah dan rajin berdoa setiap malam harus berakhir secara tragis.

Unggahan Rio dalam dialek lokal Manado tidak hanya sekadar ungkapan duka, tetapi juga sebuah serangan terbuka terhadap birokrasi kampus yang ia tuding sedang menyusun skenario tertentu untuk meredam kegaduhan dan melindungi nama baik institusi.

Tudingan Rio menjadi bensin bagi api kemarahan netizen, terutama ketika ia mendesak agar penyelidikan tidak hanya fokus pada penyebab kematian, tetapi juga membongkar praktik pungutan liar atau pungli yang diduga telah lama menjadi beban tambahan bagi mahasiswa di lingkungan Unima.

Gelombang suara netizen dan alumni pun pecah di kolom komentar, menciptakan tekanan luar biasa bagi pimpinan kampus.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Dedy Dagomes Manlesu

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X