MINAHASA UTARA - Proyek Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) di Likupang, Sulawesi Utara, menuai kritik keras. Proyek yang digarap oleh PT. Sabata Karya Kencana ini dianggap gagal memenuhi standar teknis dan berakibat fatal bagi masyarakat, khususnya di Desa Pulisan dan Kinunang, yang hingga kini belum menikmati aliran air bersih.
Sejumlah masalah teknis yang tidak profesional terlihat jelas dalam pengerjaan proyek ini. Unit air baku, yang menjadi sumber utama pasokan, dilaporkan belum siap, sehingga air tidak mengalir lancar ke Water Treatment Plant (WTP). Akibatnya, pasokan air ke masyarakat terhambat.
Selain itu, pemasangan jaringan pipa distribusi juga dikerjakan dengan asal-asalan. Alih-alih ditanam di dalam tanah dengan kedalaman 70-80 cm sesuai aturan, banyak pipa justru hanya diletakkan di dalam saluran drainase. Parahnya, pipa-pipa tersebut kemudian dicor, membuat drainase menjadi dangkal dan berpotensi menyebabkan luapan air.
"Pipa-pipa tersebut hanya di letakan di dalam drinase kemudian di cor kembali sehingga membuat drinase menjadi dangkal yang dapat mengakibatkan luapan air dan nilai drinase sudah tidak sesuai volume awal," ungkap seorang sumber di lokasi.
Baca Juga: Proyek SPAM Likupang Rp 18 Miliar Diduga Sarat Korupsi, BPP Wilayah Sulut Akui Ada kelalaian
Saat dikonfirmasi, PPK BPPW S Cipta Karya, Hario Pamungkas, awalnya mengelak dan menyatakan pipa-pipa itu bukan miliknya. Namun, setelah ditunjukkan bukti foto dan video, ia akhirnya mengakui. Hario berdalih bahwa pemasangan pipa di dalam saluran drainase telah mendapat izin dari pihak Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) Sulut.
"Nanti kami akan periksa, kalau pipa di dalam saluran dan di cor, itu tidak menjadi masalah. Karena kami sudah mendapat Izin dari Pihak BPJN," ujar Hario. Ia juga menyebut pekerjaan ini masih dalam masa pemeliharaan yang akan diperpanjang menjadi satu tahun.
Terlepas dari alasan dan janji perbaikan, kenyataannya masyarakat di Desa Pulisan dan Kinunang masih merasa dirugikan. Mereka mengaku belum pernah merasakan manfaat dari proyek ini sejak selesai dikerjakan.
"Sejak selesai kami tidak merasakan fasilitas atau manfaat dari SPAM tersebut. Bahkan jaringan pipa-pipa tersebut belum sampai/belum masuk di desa kami," ungkap seorang warga dengan nada kesal.
Pengakuan ini juga dibenarkan oleh Hario Pamungkas. "Ia, memang Kedua desa tersebut belum mendapat aliran air dikarenakan air baku dari Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulut belum lancar mengalir ke Water Treatment Plant (WTP). Jadi yang salahkan airnya," ujar Hario.
Proyek yang melibatkan dua perusahaan konsultan pengawas, PT. Manggala Karya Bangun Sarana dan PT. Aras Pasific Internasional, ini diketahui sempat mengalami adendum waktu dan sudah melewati serah terima sementara atau PHO (Provisional Hand Over). Kondisi ini semakin menguatkan dugaan adanya ketidakberesan dalam perencanaan dan pelaksanaan, membuat masyarakat menanti pertanggungjawaban dari semua pihak yang terlibat.
Tim
Artikel Terkait
Polri Tangkap Tujuh Penyebar Hoaks Provokatif Terkait Aksi Unjuk Rasa
Polsek Wenang Limpahkan Berkas Tahap II Tersangka ke Kejaksaan Negeri Manado
Siapa Dalang di Balik Teror Dini Hari? Tim Alpha Polresta Manado Berhasil Ringkus Keduanya!
Proyek SPAM KSPN Likupang yang Dikerjakan BPP Wilayah Sulut Berbandrol Rp 18 Miliar Diduga Sarat Korupsi
Proyek SPAM Likupang Rp 18 Miliar Diduga Sarat Korupsi, BPP Wilayah Sulut Akui Ada kelalaian
Ajak Masyarakat Peduli Lingkungan, Wakil Bupati Talaud Pimpin Aksi Bersih-bersih Sampah
Ketua Sinode GERMITA Apresiasi FK PKB PGI Gelar Konas di Tomohon, Dorong Peran Kaum Bapa untuk Bangsa
Tingkatkan Daya Saing Global: Nelayan Talaud Dilatih Bikin Perahu Fiberglass dan Olah Ikan Standar Ekspor
Wabup Anisya Bambungan Buka Festival Paduan Suara GERMITA, Tekankan Peran Ibu dan Sinergi Gereja-Pemerintah
Polsek Kabaruan Jaga Stabilitas Harga Lewat Gerakan Pangan Murah