Faperta Unsrat Gandeng Pemuda Perkuat Ketahanan Pangan Berbasis Kearifan Lokal

photo author
REDAKSI, Sulut Zone
- Kamis, 23 April 2026 | 07:58 WIB
Kegiatan Seminar Ketahanan Pangan di Unsrat Manado (dok. Istimewa)
Kegiatan Seminar Ketahanan Pangan di Unsrat Manado (dok. Istimewa)

MANADO – Fakultas Pertanian Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado mengambil langkah strategis dalam mengawal kedaulatan pangan dengan menyelenggarakan seminar bertajuk “Generasi Muda Sulawesi Utara sebagai Penggerak Ketahanan Pangan Berkelanjutan Berbasis Kearifan Lokal”, Senin (20/4/2026).

Bekerja sama dengan Pemuda Inspirasi Nusantara (PIN), kegiatan ini menghadirkan kolaborasi antara akademisi, praktisi, tokoh adat, hingga aktivis pemuda untuk merumuskan masa depan pangan di Sulawesi Utara.

Mapalus sebagai Benteng Pangan

Tokoh adat Minahasa, Belarmino Lapong, yang hadir sebagai narasumber, menekankan bahwa fondasi ketahanan pangan di Bumi Nyiur Melambai sebenarnya telah lama berakar pada nilai budaya Mapalus. Semangat gotong royong ini dinilai selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) poin kedua, yaitu Zero Hunger.

"Ketahanan pangan adalah nyawa, dan tanah adalah ibu. Nilai Mapalus memastikan solidaritas pangan masyarakat terjaga jauh sebelum standar internasional dicanangkan," tegas Belarmino.

Modernisasi dan Inovasi Teknologi

Senada dengan hal tersebut, Dekan Faperta Unsrat, Prof. Ir. Dedie Tooy, M.Si., Ph.D., menjelaskan bahwa ketahanan pangan modern harus mencakup aspek kualitas, keamanan, dan keterjangkauan sesuai amanat UU No. 7 Tahun 1996. Ia mendorong pentingnya swasembada yang didukung oleh penguatan ekonomi kreatif dan pemanfaatan teknologi.

Di sisi lain, praktisi pertanian Dr. Ir. Lyndon Pangemanan, M.E., mengajak generasi muda untuk mengubah stigma terhadap profesi petani. Menurutnya, pemuda harus bertransformasi menjadi agripreneur.

"Pertanian bukan lagi soal lumpur dan kerja berat, melainkan agribisnis modern. Pemuda bisa memulai dari hal kecil seperti hidroponik atau menjadi edukator pertanian digital," kata Lyndon.

Reformasi Distribusi Pupuk

Terkait teknis di lapangan, Ketua DPW Forum Alumni BEM Sulawesi Utara, Combyan Lombongbitung, S.IP., menyoroti pentingnya tata kelola input pertanian, terutama pupuk. Ia mengapresiasi implementasi Perpres Nomor 6 Tahun 2025 yang membuat distribusi pupuk subsidi kini lebih efisien melalui aplikasi iPubers.

"Di Sulawesi Utara, PT Pupuk Indonesia telah menyalurkan sekitar 74 ribu ton pupuk subsidi sepanjang 2026. Hingga April ini, realisasinya sudah mencapai 13 persen," jelas Combyan. Ia juga meminta pemuda aktif mengawasi distribusi agar tidak ada oknum yang menjual di atas Harga Eceran Tertinggi (HET).

Seminar ini diharapkan tidak hanya berhenti pada diskusi, tetapi melahirkan inisiatif konkret seperti program pertanian berbasis kampus dan peningkatan literasi pertanian bagi generasi milenial dan Gen Z di Sulawesi Utara.

(Kurnia Surentu)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Dedy Dagomes Manlesu

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X