Editorial: Menghidupkan Kembali Raksasa Tidur, Integrasi Trans Kawanua dan Trans Manado

photo author
Dedy Dagomes Manlesu, Sulut Zone
- Minggu, 8 Maret 2026 | 18:05 WIB
Trans Kawanua dan Trans Manado (Dok. Istimewa)
Trans Kawanua dan Trans Manado (Dok. Istimewa)

Editorial by Dedy Manlesu

MANADO - Wajah transportasi publik di Sulawesi Utara saat ini tengah berada dalam dua kutub yang kontras.

Di satu sisi, kita melihat gairah baru melalui bus Trans Manado yang mulai menjadi primadona warga untuk rute pusat kota.

Di sisi lain, pemandangan memprihatinkan tersaji di pelataran parkir Dinas Perhubungan; deretan bus Trans Kawanua terbengkalai layaknya barang rongsokan, sementara halte-haltenya hancur dimakan usia dan vandalisme.

​Kondisi Trans Kawanua yang mangkrak bukan sekadar kerugian aset negara, melainkan hilangnya peluang mobilitas efisien bagi warga. Padahal, jika dikelola dengan visi integrasi, armada ini bisa menjadi mitra strategis bagi Trans Manado untuk menciptakan ekosistem transportasi yang menyeluruh.

​Reorientasi Rute: Sabuk Ringroad sebagai Solusi

​Kesalahan masa lalu adalah memaksakan rute yang kini tidak lagi relevan. Halte di Pineleng atau Maumbi, misalnya, sudah selayaknya dievaluasi karena tidak lagi menjawab kebutuhan riil penumpang saat ini. Daripada membiarkan armada tersebut berdebu, redaksi menyarankan reaktivasi Trans Kawanua dengan fokus spesifik: Jalur Pinggiran Kota dan Ringroad.

​Jalur Ringroad dari Winangun menuju Kairagi (atau sebaliknya) hingga ke Bengkol adalah "jalur basah" yang selama ini haus akan transportasi publik resmi. Warga yang ingin bergerak antar-pinggiran kota seringkali terpaksa harus memutar jauh masuk ke pusat kota atau menggunakan kendaraan pribadi yang menambah beban kemacetan.

​Dengan memplot Trans Kawanua di jalur Ringroad, kita memberikan pilihan hemat waktu bagi pekerja dan mahasiswa. Jika kelak akses Ringroad telah tersambung sempurna ke Malalayang, maka cakupan ini bisa diperluas hingga ke Terminal Malalayang.

​Simpul Integrasi: Saat Dua Trans Bertemu

​Kunci keberhasilan transportasi modern bukanlah kompetisi, melainkan konektivitas. Bayangkan sebuah sistem di mana:

  • Trans Manado fokus pada urat nadi pusat kota (Terminal Malalayang – Kalimas/Mantos hingga Bandara).
  • Trans Kawanua menjadi pengumpan (feeder) sekaligus pelayan jalur lingkar luar.

​Kedua layanan ini harus bertemu di titik-titik transfer strategis. Terminal Malalayang bisa menjadi hub utama di mana penumpang dari arah Ringroad (Trans Kawanua) dapat langsung berpindah ke bus Trans Manado untuk menuju pusat bisnis atau bandara tanpa harus keluar dari sistem pembayaran yang terintegrasi.

​Komitmen Pemerintah: Lebih dari Sekadar Memperbaiki Mesin

​Menghidupkan kembali Trans Kawanua bukan hanya soal memperbaiki mesin bus yang rusak, tapi juga memulihkan infrastruktur pendukung. Halte-halte yang kini rusak parah harus dibangun kembali dengan konsep yang lebih modern dan aman.

​Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kota harus duduk bersama untuk menyelaraskan manajemen ini. Jangan sampai ada ego sektoral yang menghambat pelayanan publik. Trans Kawanua tidak boleh dibiarkan menjadi monumen kegagalan. Ia harus bangkit, berkolaborasi dengan Trans Manado, dan menjadi jawaban atas mimpi warga Sulawesi Utara akan transportasi umum yang manusiawi, tepat waktu, dan saling terhubung.

***/Dede

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Dedy Dagomes Manlesu

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X