religi

Renungan : Kasih yang Mendingin di Gereja

Minggu, 15 Juni 2025 | 11:45 WIB
Ilustrasi Greja Dingin

Religizone -- Apakah Anda merasa bahwa meskipun Anda rajin beribadah, ada sesuatu yang hilang dalam hubungan Anda dengan Tuhan? Pernahkah terbersit pikiran bahwa gereja, meskipun terlihat aktif, mungkin telah kehilangan esensinya? Pertanyaan-pertanyaan ini relevan dengan teguran yang diberikan kepada jemaat Efesus di masa lampau, sebuah teguran yang masih bergema kuat hingga hari ini.

William Hendriksen menggambarkan kondisi jemaat Efesus seperti seorang anggota gereja yang sangat rutin menghadiri kebaktian, tetapi mungkin tidak lagi memiliki hati yang beribadah kepada Tuhan seperti sedia kala. Kondisi ini adalah pembusukan dalam hal kasih. Jika tidak ada pertobatan, Tuhan mengancam akan mengambil kaki dian dari tengah-tengah mereka, yang berarti Tuhan akan meninggalkan mereka dan mereka akan mengalami kegelapan rohani. Gereja akan berhenti menjadi gereja sejati ketika ia tidak lagi melayani Tuhannya dengan kasih dan bakti yang tulus.

Kemunduran Kasih dan Pelayanan Injil

Gregory K. Beale mengemukakan bahwa teguran ini kemungkinan besar disebabkan oleh hilangnya semangat jemaat Efesus terhadap pesan-pesan Injil. Fokus mereka bergeser kepada menjaga kemurnian iman mereka, melupakan bahwa hubungan utama mereka dengan Tuhan adalah menjadi saksi bagi dunia.

Simon J. Kistemaker menambahkan, jemaat Efesus mengalami kemunduran dalam hal kasih dibandingkan generasi sebelumnya. Hal ini berakibat pada kemunduran dalam pelayanan Injil. Mereka telah kehilangan antusiasme para ayah dan kakek mereka; mereka bukan lagi penyebar, melainkan hanya pengurus dan penjaga iman. Ada kemunduran nyata dalam pelayanan penginjilan karena pola pikir yang mempertahankan status quo. Meskipun mereka mengasihi Tuhan, kasih itu tidak lagi dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi, berbeda dengan jemaat generasi pertama yang mengerahkan segenap tenaga sehingga firman Tuhan tersiar dan berkuasa di Efesus (Kisah Para Rasul 19:20).

Ancaman dari Dalam: Ajaran Sesat dan Kompromi

Tuhan Yesus juga secara khusus memuji jemaat Efesus karena membenci perbuatan pengikut-pengikut Nikolaus, sebuah ajaran yang juga dibenci oleh Tuhan sendiri.

Kelompok Nikolaus ini kemungkinan besar sama dengan penganut ajaran Bileam dan Izebel, yang mengajarkan doktrin sesat dan menipu jemaat. Nama Nikolaus sendiri dalam bahasa Yunani berarti "Ia yang menaklukkan orang". Ini mengindikasikan bahwa para pengikut ajaran ini mungkin bercirikan imoralitas, ikut dalam perayaan berhala, makan persembahan berhala, dan memutarbalikkan kebenaran.

Sangat mungkin para pengikut Nikolaus ini mengajarkan bahwa orang Kristen boleh terlibat dalam budaya berhala di kota Efesus, sebuah kota yang dikenal dengan kuil Dewi Artemis, yang dilayani oleh ribuan imam dan melibatkan praktik prostitusi. Beberapa hal yang mungkin turut mempercepat kemerosotan spiritual jemaat Efesus meliputi:

  1.  Prasangka orang-orang Yahudi.
  2. Kebanggaan atau kesombongan karena pembelajaran.
  3. Pengaruh dari gaya hidup berhala yang populer dan para imam yang menarik.
  4. Efek dari kekayaan.
  5. Kesenangan hidup yang bersifat sensual.

Janji Bagi Mereka yang Menang

Meskipun ada teguran keras, Tuhan Yesus juga memberikan janji indah: "Barangsiapa menang, dia akan Kuberi makan dari pohon kehidupan yang ada di Taman Firdaus Allah." Siapa yang dimaksud dengan "dia yang menang"? Dialah yang berperang melawan dosa, Iblis dan seluruh pengikutnya, serta yang dalam kasihnya kepada Kristus bertekun sampai akhir. Kemenangan ini adalah kemenangan atas konflik dan pencobaan hidup di dunia. Dengan demikian, janji ini diberikan kepada orang percaya sejati.

Tuhan menjanjikan sesuatu yang jauh lebih baik daripada makanan yang dipersembahkan kepada berhala, yang dengannya orang-orang kafir berpesta pora dengan cara berdosa. Makanan terbaik yang Tuhan berikan adalah makanan yang memberikan hidup yang kekal. Mereka yang menang akan hidup bersama-sama dengan Tuhan Yesus (Wahyu 22:2; 14).

Refleksi Diri

Mari kita merenungkan hidup kita sejauh ini: Apakah kita bertumbuh di dalam kasih karunia Tuhan, di dalam pengenalan firman Tuhan? Sudahkah dalam pertumbuhan itu kita juga semakin mengasihi Allah dan sesama? Dan yang tak kalah penting, sudahkah kita berbagian dalam membawa kabar baik Injil kepada sesama? Jangan sampai kita, seperti jemaat Efesus, kehilangan api kasih yang mula-mula dan mengancam keberadaan gereja sejati.

Tags

Terkini