MTPJ 9 – 15 Agustus 2026 : “Lakukanlah Segala Sesuatu Dengan Tidak Bersungut-sungut Dan Berbantah-bantahan”

photo author
Dedy Dagomes Manlesu, Sulut Zone
- Minggu, 9 Agustus 2026 | 11:13 WIB
MTPJ
MTPJ

Filipi 2:12-18

ALASAN PEMILIHAN TEMA

Gereja dalam pertumbuhannya seringkali ditarik pada dua pemahaman: Pertama, legalisme: mengajarkan bahwa keselamatan dan berkat Tuhan Allah ditentukan oleh usaha manusia. Kesalehan manusia menjadi kunci untuk memperoleh

semua berkat. Kedua, antinomianisme berarti:”melawan hukum” atau “menolak hukum.” meyakini bahwa orang Kristen tidak lagi terikat pada hukum Taurat. Orang Kristen percaya di dalam Yesus Kristus menerima anugerah keselamatan, karena itu bebas berbuat apa saja. Di samping itu, berbagai pergumulan sering membuat Gereja rentan perpecahan ketika ada perbedaan pendapat antar Pelayan Khusus, para pemimpin dan anggota jemaat tentang program pelayanan. Dampak adanya pro dan kontra; ada yang setuju dan tidak, ada yang aktif menopang dan lain masa bodoh.

Perbedaan yang tajam memunculkan ketidakpuasan yang akhirnya terjadi persungutan dan perbantahan. Hal ini membuat persekutuan terancam perpecahan. Sebab saling menyalahkan dan pembenaran diri merusak keutuhan persekutuan dan menghambat pertumbuhan iman jemaat. Keutuhan dan keselamatan yang harus dijaga dalam persekutuan dengan hidup sehati sepikir dalam Tuhan Allah, saling membantu dalam mencari solusi terhadap pergumulan yang dihadapi. Tema perenungan sepanjang minggu ini adalah, LAKUKANLAH SEGALA SESUATU DENGAN TIDAK BERSUNGUT-SUNGUT DAN BERBANTAH-BANTAHAN.

PEMBAHASAN TEMATIS

  • Pembahasan Teks Alkitab (Eksegese)

Nama Kota Filipi diambil dari Raja Makedonia Filipus II, ayahnya Aleksander Agung. Kota ini memiliki banyak teater, tempat pemandian, lapangan umum dan patung dewa-dewi. Kitab ini di tulis Paulus ketika berada di penjara (1:7) untuk menyatakan terima kasih kepada jemaat yang menopangnya dengan pemberian dan doa (1:5, 4:10-19). Ia mengingatkan jemaat untuk tetap taat kepada Injil Yesus Kristus di tengah-tengah penderitaan (1:29-30) dan memberi pemahaman tentang status sebagai orang percaya diperhadapkan dengan hukum Taurat (3:2-11). Jemaat di Filipi didirikan oleh Paulus dan teman-teman sekerjanya (Silas, Timotius, Lukas) pada perjalanan misi yang kedua sebagai tanggapan terhadap penglihatan yang Tuhan Allah berikan di Troas (Kis.16:9-12).

Filipi 2:12-18, diawali dengan sapaan “Hai saudara-saudaraku…” menjelaskan bahwa Paulus memiliki hubungan yang akrab. Ia mengapresiasi ketaatan jemaat “…kamu senantiasa taat;” (Yun. hupakouein: takluk, patuh, menurut). Maka Paulus meminta supaya mereka berusaha, agar keselamatan yang telah dianugrahkan Yesus Kristus dinyatakan dalam kehidupan beriman. “Karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu…” kerjakan (Yun. katergazomai: menyelesaikan, menunaikan) “dengan takut dan gentar” artinya dengan hormat, kagum dan dalam kerendahan hati. Mengerjakan keselamatan dengan berjerih payah dan tekun sampai akhir, tidak boleh asal-asalan, harus lahir dari iman. Paulus berharap jemaat menjaga keutuhan persekutuan. Jemaat terancam terpecah-belah karena lebih fokus mencari kepentingan sendiri atau pujian yang sia-sia, menganggap dirinya lebih penting dari pada yang lain, bersungut-sungut dan berbantah-bantah dalam pelayanan.

Perintah “mengerjakan keselamatan” memiliki makna agar jemaat bersatu, sehati dan sepikir sehingga gereja selamat dari perpecahan. Rasul Paulus menegaskan “mengerjakan keselamatan” harus dengan takut dan gentar karena ketika jemaat terpecah-belah membuat mereka tawar hati menghadapi penganiayaan dan serangan yang dapat menghancurkan iman. Semua harus dilakukan atas dasar Tuhan Allah telah bekerja di dalam diri orang percaya lebih dulu. Tuhan Allah memberikan kemauan dan kemampuan kepada orang percaya untuk melakukannya. Saat orang percaya menaati Tuhan Allah, itu terjadi karena kekuatan dari Roh Kudus, bukan karena kehebatannya. Ini memunculkan kerendahan hati untuk selalu bergantung pada Tuhan Allah.

Paulus tidak ingin mereka merasa diri berjasa dalam keselamatan. Di balik ketaatan mereka ada pribadi lain yang mengerjakan semuanya, yaitu Tuhan Allah (ay.12-13. Salah satu bentuk ketaatan adalah tidak bersungut-sungut (Yun. gonggusmos: kejengkelan, tidak puas; persungutan berkali-kali muncul dalam perjalanan di padang gurun (Kel.16:7-9,12; Bil. 17:20,25) dan berbantah-bantahan (Yun. dialogismos: perdebatan, pertikaian’ bdk. Rm.14:1). Paulus ingin, jemaat mengutamakan persekutuan (koinonia), hidup dalam kebenaran dan kasih. Kelakuan mereka harus tidak beraib, hati dan pikiran mereka bersih, murni (tidak bernoda) di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan sesat (bdk.Ul.32:5). Hal ini merujuk pada integritas internal dan eksternal. “Sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia”. Bintang hanya bisa terlihat terang karena langit di sekitarnya sangat gelap. Kehidupan orang Kristen harus menunjukkan perbedaan moral dan karakter yang mencolok dari dunia sekitarnya. Mereka yang berada di dalam kegelapan memerlukan sinar bintang. Di sinilah jemaat dipanggil untuk memainkan peranannya (bdk.Mat. 5:13-14).

Orang percaya harus menjadi kompas moral dan spiritual bagi orang-orang yang tersesat di dalam dosa. Hidup orang percaya harus mengarahkan sesama kepada kebenaran Tuhan Allah. Kesaksian iman ini diperoleh melalui komitmen dalam ketaaan yang berpegang (artinya: memegang teguh secara terus menerus) pada firman kehidupan. Ada keseriusan dan konsistensi di dalamnya dan bukan sekadar tindakan sporadis. Dengan hidup seperti itu, menjadi alasan bagi Paulus untuk bermegah pada hari kedatangan Yesus Kristus, bahwa ia tidak percuma berlomba dan tidak percuma bersusah-susah. Kemegahan Paulus di sini bukan berarti kesombongan, melainkan sebuah keyakinan terhadap pengharapan di akhir zaman (ay.14-16). Tetapi sekalipun darahku dicurahkan pada korban dan ibadah imanmu, aku bersukacita dan aku bersukacita dengan kamu sekalian. Dalam tradisi Yahudi memberikan persembahan, selain korban yang diletakkan di atas mezbah, ada juga korban curahan (dalam Yudaisme, korban curahan dicurahkan sekitar mezbah). Jemaat Filipi diharapkan seperti korban bakaran di atas mezbah yang rela berkorban untuk pekerjaan pelayanan.

Perkataan “aku bersukacita” dan “kamu juga bersukacita” bukanlah suatu pemberitahuan dan ajakan biasa saja, tetapi suatu sorak-sorai kemenangan. Bukan saja berhubungan dengan apa yang telah dikatakan, tetapi terutama dengan hari Yesus Kristus yang akan datang, di mana ia dapat mempersembahkan mereka kepada-Nya, sebagai bukti bahwa ia tidak percuma berlomba dan tidak percuma bersusah-susah.

Paulus melakukan apapun yang bisa untuk memastikan bahwa ia tidak akan malu pada saat kedatangan Yesus Kristus yang kembali (1:20a). Dia ingin agar semua jerih-payahnya dalam pelayanan tidak sia-sia. Salah satu cara yang dia tempuh adalah memaksimalkan relasinya yang baik dengan jemaat Filipi. Sekalipun ia harus mati sebagai korban curahan dan Paulus mengajak jemaat untuk bersukacita bersamanya (ay.17-18).

MAKNA DAN IMPLIKASI FIRMAN

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Dedy Dagomes Manlesu

Sumber: Dodoku GMIM

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

MTPJ GMIM 2 - 8 Agustus 2026

Minggu, 2 Agustus 2026 | 08:37 WIB

Ditengah Pergumulan : Kekuatan GMIM Hanya Doa

Senin, 22 Juni 2026 | 11:42 WIB
X