Yaitu, kasusnya tidak terlalu besar. Karena ketika orang mengkonsumsi alkohol, itu kan kesadarannya tidak utuh, kata Muhammad Mustofa.
Lanjut Mustofa, karena ketika orang, para pelaku perkosaan mencari korban itu seperti mencari pacar.
Yaitu tipe idealnya. Seorang calon pemerkosa yang badannya kurus, kalau tipe idealnya adalah badannya besar, itu yang dijadikan sasaran.
Jadi amat sangat pribadi kriteria antara pelaku dan korban itu, Kata Muhammad Mustofa.
$Apakah si pemerkosa akan mempertimbangkan kekuatan dari korban itu sendiri, misalkan korbannya adalah istri seorang jenderal dan berada di rumah wanita tersebut," tanya Jaksa.
Baca Juga: Akun Bella Korompot Mendadak Viral di Facebook, Netizen Penasaran Dengan Sosok Lawan Mainnya
Muhammad Mustofa mengatakan, kalau secara fisik, pelaku tidak memperhitungkan.
Tapi kemungkinan resiko yang diterima akan dipertimbangkan, selalu akan dipertimbangkan.
Jaksa menanyakan tentang kejadian di Saguling, dapatkan seorang pelaku itu mendengar istirnya di perkosa, masih sempat melakukan tindakan lain dalam artian bermain badminton maupun menunda pembicaraan dengan si pemerkosa ini.
Baca Juga: Dugaan Manipulasi Data Dalam Verifikasi Faktual Partai Politik
"Padahal pemerkosa ini adalah ajudan nya ini sendiri," tanya Jaksa.
Muhammad Mustofa mengatakan, dalam pembunuhan tidak berencana, biasanya pembunuhan merupakan reaksi seketika, jadi tidak ada jeda waktu lagi.
Tidak ada jeda waktu lagi. Menyaksikan istrinya diperkosa dia lakukan penembakan terhadap pelaku.