SULUTZONE.COM — Presiden Prabowo Subianto resmi melakukan penyegaran di jantung pertahanan ekonomi Indonesia. Dengan dilantiknya Juda Agung sebagai Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) menggantikan Thomas Djiwandono pada Rabu (5/2/2025), pemerintah mengirimkan sinyal kuat kepada pasar: sinkronisasi antara kebijakan moneter dan fiskal kini menjadi prioritas utama untuk menjaga stabilitas rupiah dan pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian global.
Langkah estafet kepemimpinan di lapangan Banteng ini menandai babak baru dalam pengelolaan kas negara. Juda Agung, yang sebelumnya dikenal sebagai sosok senior di Bank Indonesia, kini mengemban tanggung jawab besar untuk mendampingi Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. Kehadirannya dipandang sebagai upaya strategis untuk menjembatani kebijakan bank sentral dengan kebijakan anggaran pemerintah.
Mengutip laporan dari iNews, prosesi pelantikan ini berlangsung khidmat di Istana Negara, Jakarta. Penunjukan Juda bukan sekadar pengisian posisi kosong, melainkan langkah krusial mengingat Thomas Djiwandono mendapatkan penugasan baru yang tak kalah penting. Thomas kini dipercaya untuk menjabat sebagai Utusan Khusus Presiden Bidang Kerja Sama Ekonomi Internasional.
Pemisahan peran ini memperlihatkan strategi "dua jalur" Presiden Prabowo. Di satu sisi, Thomas akan fokus memperkuat posisi Indonesia di panggung ekonomi global, sementara Juda Agung akan fokus pada "pekerjaan rumah" domestik, memastikan anggaran negara tetap sehat dan mampu meredam gejolak inflasi.
Keputusan ini disambut positif oleh para pelaku pasar. Pengalaman panjang Juda di sektor moneter diharapkan mampu menciptakan kebijakan fiskal yang lebih presisi, terutama dalam mengelola utang negara dan optimalisasi pendapatan negara di tahun-tahun mendatang.
"Demi Allah saya bersumpah, bahwa saya akan setia kepada Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945," ucap Juda Agung saat membacakan sumpah jabatan di hadapan Presiden, sebagaimana dikutip dari siaran langsung prosesi pelantikan tersebut.
Perubahan formasi ini menunjukkan bahwa Kabinet Merah Putih sedang berupaya membangun "super-tim" ekonomi yang lebih teknokratis. Dengan menempatkan eks-petinggi Bank Indonesia di Kementerian Keuangan, ego sektoral antara kebijakan suku bunga dan kebijakan belanja negara diharapkan terkikis. Bagi masyarakat, kolaborasi ini diharapkan mampu menjaga daya beli tetap stabil di tengah transisi kepemimpinan nasional yang sedang berjalan cepat.
Artikel Terkait
Tommy Djiwandono Dilantik Jadi Wamenkeu: Jembatan Menuju Kursi Menkeu?
Dilema Rokok untuk Ekonomi dan Kesehatan, Menkeu Purbaya Pilih Beri Tantangan Balik Begini
Menkeu Purbaya Tantang Daerah Tak Hanya Bergantung pada Komoditas, Sebut Upaya Kurangi Jawa Sentris soal Pertumbuhan Ekonomi
Menkeu Purbaya Yakin Ekonomi Pulih Lebih Cepat di Desember 2025, Gen Z Justru Masih Terjebak di Lingkar Pengangguran
Menkeu Purbaya Singgung Pemerintahan Masa Orba, Sebut Inflasi dan Jaga Harga Beras Jadi Jalan Politik Terampuh
Menkeu Purbaya Singgung Korupsi dan Lemahnya Tata Kelola Daerah dari Bekasi hingga Sumsel
Menkeu Purbaya Setel Alarm Bahaya bagi Ekonomi RI: Anggaran Triliunan Pemda Parkir di Bank, Serapan FLPP Lamban
Resahnya Warga Cari Kerja Jadi Sorotan Prabowo di Sidang Kabinet, Lihat Lagi Target Menkeu Purbaya di Akhir 2025
Presiden Prabowo Minta Duit Sitaan Korupsi untuk LPDP: Menkeu Purbaya Sanggupi Tahun Depan, Wamen Stella Christie Sigap Lakukan Koordinasi
Usai Diam-diaman di Sidang Kabinet, Intip Beda Pandangan Purbaya vs Luhut soal Whoosh yang Dianggap Beban Fiskal Negara
Tanggapi Narasi ‘Menkeu Purbaya Ditipu Bank Himbara soal Suntikan Dana Rp200 Triliun,’ Kemenkeu: Hoaks!