"Perjalanan durian: Dipikul oleh kuli penyebrang seharga Rp 2.000 per buah, diteruskan oleh tukang “langsir” bersepeda motor melalui jalur tebing terjal dengan ongkos Rp 80.000–150.000 per trip," ungkap Sherly.
Bertaruh Nyawa untuk Bertahan Hidup
Di sisi lain, Sherly menyampaikan risiko besar bagi para warga saat melewati akses jalan yang curam dan minim pengamanan untuk keselamatan mereka.
Aktivis kemanusiaan itu menuturkan, nyawa melayang di jurang puluhan meter.
Para warga di Aceh Tengah tersebut rela mempertaruhkan nyawa hanya untuk bertahan hidup.
"Seorang kuli panggul, yang akrab disapa Bule, dengan tubuh kecil dalam guyuran hujan," terang Sherly.
"Hilir-mudik menyeberangi Krueng Peusangan di atas 'lumpe', seutas kabel baja, ditopang bambu yang menjadi satu-satunya penghubung," sebutnya.*
Artikel Terkait
TNI-Masyarakat Miangas Kunci Tahun 2025 dengan Doa dan Cakalele, Sambut 2026 Penuh Harapan."
Babinsa Serka Frans Sasoeng Jalin Sinergi Kuat dengan Guru SD Tuabatu Talaud, Pastikan Lingkungan Belajar Aman dan Kondusif
Lobby Kantor Gubernur Sulut Disulap Jadi Posko Bantuan Korban Banjir Bandang Sitaro
Psikolog Sebut Permasalahan Keluarga datang dari Faktor Ekonomi
Siaga Bencana! Babinsa Talaud Turun ke Warga Miangas, Beri Peringatan Dini Banjir dan Longsor
Lewat Didi Roa, Etsuko Kitchen Bantu Korban Banjir Bandang Sitaro
Tanpa Pemberitahuan! Pergantian Pala Jaga 5 di Pineleng Satu Tuai Kontroversi, Warganet Heboh
Viral! Wisatawan Asal Kalimantan 'Dipalak' di Padangbai, Sisi Gelap Pariwisata Bali Jadi Sorotan
Kapolres Talaud, AKBP. Arie Sulistyo Nugroho Tebar Ribuan Benih Ikan Nila
Sempat Heboh Biaya Sumur Bor Disebut Capai Rp150 Juta, Warga di Aceh Timur Justru Hanya Bikin Senilai Rp15 Juta?