Kisah Pilu Eks Dokter Spesialis THT di Jateng, Pilih Hidup di Kolong Jembatan Usai Kehilangan Keluarga

photo author
Dedy Dagomes Manlesu, Sulut Zone
- Selasa, 29 Juli 2025 | 21:45 WIB
Tangkapan layar sebuah gubuk yang menjadi tempat tinggal pria yang mengaku sebagai lulusan S1 Kedokteran. (Youtube/Sinau Hurip)
Tangkapan layar sebuah gubuk yang menjadi tempat tinggal pria yang mengaku sebagai lulusan S1 Kedokteran. (Youtube/Sinau Hurip)

SULUTZONE.COM – Sebuah kisah hidup yang menyentuh hati viral di media sosial, menampilkan seorang pria bernama Hafid yang mengaku sebagai mantan dokter spesialis Telinga, Hidung, dan Tenggorokan (THT). Lebih mengejutkan, Hafid kini memilih untuk hidup di bawah kolong jembatan di kawasan Kadilangu, Demak, Jawa Tengah, setelah diterpa tragedi kehilangan istri dan anak semata wayangnya.

Kisah Hafid ini pertama kali mencuat melalui kanal YouTube Sinau Hurip yang dipandu oleh Sukaryo Adiputro atau akrab disapa Adi. Dalam tayangan tersebut, Hafid blak-blakan menceritakan perjalanan hidupnya yang tak biasa.

Lulusan Universitas Ternama dan Pendidikan Internasional

Hafid mengaku sebagai lulusan Strata 1 (S1) dari Universitas Indonesia, salah satu universitas bergengsi di Tanah Air. Tak hanya itu, ia juga mengeklaim telah menempuh pendidikan spesialis THT di Singapura.

“Saya kuliah S1-nya di Universitas Indonesia,” ujar Hafid kepada Adi, seperti dikutip pada Selasa (29/7/2025).

Lebih jauh, pria ini juga mengungkapkan sempat mendalami ilmu selama empat tahun di Italia. Sepulangnya dari Italia, Hafid mengaku sempat membuka apotek di Jember, Jawa Timur, mengindikasikan rekam jejak profesional yang cukup mapan.

Tragedi Kehilangan yang Mengguncang Jiwa

Namun, badai kehidupan tak terduga menghantam Hafid. Ia harus menerima kenyataan pahit kehilangan istri dan anak tunggalnya secara beruntun. Sang anak, yang disebutnya tengah menempuh pendidikan di Jerman, dikabarkan meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan tragis.

“Setelah itu saya benar-benar frustrasi. Saya tinggalkan semua,” ungkap Hafid dengan nada pilu, menggambarkan betapa hebatnya guncangan emosional yang ia alami.

Kehilangan yang mendalam ini mendorong Hafid untuk menarik diri dari kehidupan duniawi yang pernah ia jalani. Ia memilih jalan sunyi, menjalani hari-hari di bawah jembatan, jauh dari hiruk pikuk peradaban.

“Lebih tenang rasanya,” kata Hafid saat ditanya alasannya memilih gaya hidup ekstrem tersebut, menyiratkan pencarian kedamaian setelah badai melanda.

Kisah Hafid ini sontak memicu beragam reaksi di kalangan warganet, mulai dari simpati mendalam terhadap penderitaannya hingga rasa penasaran akan kebenaran di balik pengakuannya. Kisah ini menjadi pengingat akan kerapuhan manusia di hadapan takdir dan bagaimana trauma dapat mengubah arah hidup seseorang secara drastis.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Dedy Dagomes Manlesu

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Presiden Prabowo Dikabarkan Kunjungi Sulut

Jumat, 8 Mei 2026 | 09:38 WIB
X