Namun, karena kadarnya yang lebih rendah dari rokok konvensional, seringkali membuat orang-orang terperangkap dengan berasumsi produk ini memiliki tingkat toksisitas lebih rendah dan akhirnya sering menggunakannya.
"Kalau sering dihisap, nanti kadarnya akan sama dengan satu batang rokok konvensional," tegas dia.
Dia menyarankan vape tidak digunakan sampai terbukti aman dan tak merekomendasikannya untuk modalitas berhenti rokok.
Baca Juga: Kabar Otomotif! Chery Omoda 5 Melengkapi Pilihan Konsumen Indonesia: Pas Untuk Kawula Muda
Menurut dia, pengguna rokok elektrik juga berpotensi kecanduan, menjadi pengguna rokok konvensional dan pengguna bahan adiktif lainnya.
Tidak bisa berhenti merokok itu sudah kecanduan. Berhenti itu untuk seterusnya tidak merokok.
"Rasa asam di mulut bukan satu-satunya tanda (kecanduan). Dia bisa menjadi gelisah karena tubuhnya merasa kurang nikotin," demikian kata Erlina.
Baca Juga: Kabar Otomotif! Mitsubishi Outlander di 2023 Didesain Sebagai Model Paling Premium
November lalu, sebuah studi dalam Journal of American Dental Association seperti disiarkan Medical Daily, menemukan orang yang penggunaan produk vaporizer (vape) atau rokok elektronik berisiko lebih tinggi mengalami kerusakan gigi dan penyakit periodontal.
Para peneliti melakukan studi silang menggunakan catatan pasien dari 13.098 orang yang datang ke klinik sekolah gigi pada 1 Januari 2019 hingga 1 Januari 2022.
Kebanyakan dari pasien tidak menggunakan vape (99,3 persen), sementara hanya sedikit (0,69 persen) mengaku menggunakan rokok elektrik.
Baca Juga: Video Syur Artis, Akhirnya Artis Rezky Adhitya Resmi Dilapor ke Polisi
Kemudian, di antara pengguna, 79 persen memiliki risiko yang signifikan terhadap gigi berlubang.
Tim peneliti lalu menghubungkan antara penggunaan vape atau rokok elektrik dan tingkat risiko karies pasien.