Tomohon, sulutzone.com - Beredar kabar tentang penyebaran nyamuk Wolbachia membuat keberadaan nyamuk Aedes aegypti penyebar virus demam berdarah semakin ganas.
Kementerian Kesehatan, Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Maxi Rein Rondonuwu, memberikan penegasan penting tentang, tidak ada hubungan antara penyebaran nyamuk ber-wolbachia dan tingkat keganasan nyamuk Aedes aegypti, menyebabkan demam berdarah.
“Ini adalah pukulan dari keyakinan sebelumnya bahwa strategi tersebut mungkin dapat mempengaruhi karakteristik nyamuk pembawa penyakit tersebut,” kata Rondonuwu.
Meskipun telah dilakukan penyebaran nyamuk ber-wolbachia di beberapa kota, termasuk Semarang, Kupang, Bontang, Bandung, dan Jakarta Barat, hasil pemantauan menunjukkan bahwa karakteristik dan gejala demam berdarah tetap sama.
Apalagi belum ada perbedaan yang signifikan dalam jumlah nyamuk Aedes aegypti sebelum dan setelah penyebaran wolbachia.
Pemerintah telah menjalankan program ini dengan keyakinan bahwa nyamuk ber-wolbachia akan membantu mengurangi kasus demam berdarah, seperti yang terjadi di Kota Yogyakarta.
Hasil pemantauan menunjukkan bahwa penurunan kasus baru akan terlihat setelah beberapa tahun, dengan persentase nyamuk ber-wolbachia yang ideal mencapai 60 persen di alam.
“Dalam 30 tahun ke depan, peluang peningkatan bahaya penyebaran aedes aegypti ber-wolbachia dapat diabaikan (diabaikan),” kata Dirjen Maxi.
Meskipun demikian, penerapan teknologi nyamuk ber-wolbachia dipastikan aman dan telah melewati proses penelitian yang panjang.
Hasil analisis risiko menunjukkan bahwa risiko penyebaran nyamuk ber-wolbachia sangat rendah, dengan peluang peningkatan bahaya dalam 30 tahun ke depan diabaikan.
Baca Juga: Lima Ribu Orang Terkena Flu Singapura, Simak Pencegahannya!
Meskipun telah mengambil langkah-langkah untuk mengurangi penyebaran demam berdarah dengan menggunakan nyamuk ber-wolbachia, masyarakat tetap diimbau untuk melengkapi upaya pencegahan dengan menerapkan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan 3M Plus, termasuk menguras tempat pelindung udara, menutup tempat-tempat pelindung udara, dan mendaur ulang barang-barang yang memiliki potensi untuk dijadikan tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti. (Steven).