internasional

Dampak Tarif 10% AS-China pada Industri Otomotif: Implikasi pada Produksi dan Harga Kendaraan

Jumat, 7 Februari 2025 | 08:40 WIB
Industri Otomotif

Sulutzonecom -- Keputusan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, untuk mengenakan tarif tambahan 10% pada barang impor dari China turut memengaruhi sektor otomotif AS, terutama terkait dengan suku cadang mobil. Kebijakan tarif ini berpotensi meningkatkan harga kendaraan yang sudah tinggi bagi konsumen AS, dengan dampak terbesar dirasakan oleh model kendaraan seperti Lincoln Nautilus milik Ford dan Buick Envision milik General Motors (GM). Kedua kendaraan crossover ini menyumbang 95% dari total kendaraan buatan China yang terjual di AS pada tahun lalu.

Menurut Jeff Schuster, Wakil Presiden Riset Otomotif di GlobalData, Ford dan GM menjadi yang paling terdampak dari segi volume kendaraan yang diproduksi. "Perusahaan domestik kitalah yang menanggung beban ini, setidaknya untuk kendaraan penuh. Namun, dampak ini bisa diredam sampai batas tertentu," ujarnya.

Selain itu, produsen mobil lain seperti Volvo dan Polestar, yang dimiliki oleh Geely dari China, mengimpor lebih sedikit kendaraan ke AS dan mengubah rencana produksi untuk mengurangi ketergantungan pada impor kendaraan dari China. Hal ini semakin diperburuk oleh tarif 100% yang diberlakukan oleh pemerintahan Joe Biden terhadap kendaraan listrik (EV) dari China tahun lalu.

CFO Ford yang baru, Sherry House, menyatakan bahwa perusahaan akan terus memantau dampak tarif terhadap strategi impor dan ekspor mereka. "Kami akan menilai situasi ini, termasuk tanggapan dari China, untuk mengevaluasi apakah tarif ini memengaruhi strategi perusahaan," kata House.

Walaupun volume kendaraan buatan China yang terjual di AS relatif kecil—hanya sekitar 0,6% dari total penjualan mobil baru di AS pada tahun 2024—dampak tarif terhadap impor suku cadang mobil sangat signifikan. Berdasarkan data dari Komisi Perdagangan Internasional AS, AS mengimpor barang transportasi dari China senilai sekitar US$15,4 hingga US$17,5 miliar per tahun, yang mencakup suku cadang dan aksesori mobil.

Analis Goldman Sachs, Mark Delaney, mencatat bahwa meskipun impor kendaraan dari China terbatas, suku cadang mobil dari China, yang termasuk dalam rantai pasokan baterai dan komponen EV, tetap memainkan peran yang sangat penting. Hal ini terutama mencakup baterai lithium iron phosphate (LFP), yang digunakan dalam penyimpanan energi skala utilitas.

Di sisi lain, kendaraan listrik yang dijual di AS juga mengandalkan banyak komponen dari China. Berdasarkan data dari Badan Keselamatan Lalu Lintas Jalan Raya Nasional, sejumlah model EV—seperti Hyundai Kona EV (50%), Nissan Ariya EV (40%), dan Toyota bZ4x EV (20%)—memiliki persentase komponen buatan China yang signifikan.

Dengan meningkatnya ketergantungan pada impor suku cadang dan bahan baku dari China, tarif tambahan ini bisa memengaruhi strategi produksi dan harga mobil di pasar AS, terutama untuk kendaraan listrik yang semakin populer namun belum mencapai adopsi masal yang diharapkan. Dampaknya terhadap biaya dan pasokan baterai untuk kendaraan listrik masih belum sepenuhnya jelas, namun hal ini berpotensi memengaruhi jalur perkembangan industri otomotif di AS dalam jangka panjang.

Tags

Terkini