SULUTZONE -- Tahun 1868, di tengah hiruk pikuk kota London, sebuah penemuan revolusioner muncul.
Bukan penemuan teknologi canggih, tapi sebuah alat sederhana yang akan mengubah wajah transportasi perkotaan selamanya, lampu lalu lintas.
Bayangkan, di era kereta kuda dan gas lamp, London sudah dihadapkan pada masalah klasik kota besar, kemacetan.
Lampu lalu lintas pertama, yang dipasang di persimpangan "The junction of Parliament Street and Great George Street", merupakan solusi brilian untuk mengurai kemacetan.
Baca Juga: CBR 150 Tabrak Jembatan di Tuabatu Talaud, Satu Pengendara Meninggal Dunia
Lampu ini, yang didesain oleh J.P. Knight, seorang insinyur kereta api, menggunakan gas untuk menyalakan lampu merah dan hijau.
Konsepnya sederhana, lampu merah berarti berhenti, lampu hijau berarti jalan.
Namun, lampu lalu lintas pertama ini bukanlah keajaiban teknologi.
Baca Juga: Manchester City Terkapar di Tangan Aston Villa: Guardiola Akui Kekalahan yang Pantas
Sistemnya masih manual, diatur oleh seorang petugas polisi yang bertugas mengganti lampu secara manual.
Bayangkan, seorang polisi harus berjaga di tengah jalan, menarik tuas untuk mengganti lampu merah dan hijau.
Meskipun sederhana, lampu lalu lintas pertama di London ini menandai awal dari sistem pengaturan lalu lintas yang kita kenal saat ini.
Baca Juga: Polisi Talaud sweaping /Rasia, Permainan Petasan Long-long dari Kaleng di sambung
Seiring berjalannya waktu, lampu lalu lintas terus berkembang, dari sistem manual menjadi sistem otomatis, dari lampu gas menjadi lampu listrik, dan dari lampu merah dan hijau menjadi lampu merah, kuning, dan hijau.
Kisah lampu lalu lintas pertama di London ini mengajarkan kita tentang pentingnya solusi sederhana untuk masalah rumit.
Dan, bahwa kemajuan teknologi tidak selalu berarti harus rumit dan mahal.
Baca Juga: Legenda Piala Dunia 1966, George Eastham, Berpulang di Usia 88 Tahun
Kadang, solusi paling sederhana adalah yang terbaik.
***