SulutZone.com - Hari Jumat, 8 Mei 1998, adalah hari yang akan selamanya terpatri dalam ingatan warga Yogyakarta, khususnya mereka yang tinggal di daerah Gejayan.
Peristiwa yang dikenal sebagai Tragedi Gejayan atau Peristiwa Gejayan adalah bentrokan berdarah yang terjadi di tengah demonstrasi mahasiswa menuntut reformasi dan turunnya Presiden Soeharto.
Bentrokan ini meluas hingga malam hari, meninggalkan ratusan korban luka dan satu orang, Moses Gatutkaca, meninggal dunia.
Baca Juga: Marsinah: Aktivis Buruh yang Menginspirasi
Pagi pukul 09.00 WIB, demonstrasi dimulai di kampus Institut Sains dan Teknologi Akprind dan Sekolah Tinggi Teknologi Nasional (STTNAS) Yogyakarta.
Di kampus Universitas Kristen Duta Wacana, aksi keprihatinan digelar di Atrium UKDW. Setelah salat Jumat, sekitar 5000 mahasiswa Universitas Gadjah Mada Yogyakarta melakukan demonstrasi di bundaran kampus UGM.
Demonstrasi ini berlangsung tertib, menuntut perbaikan kondisi ekonomi yang saat itu dilanda krisis moneter, penolakan terhadap Soeharto sebagai presiden, protes atas kenaikan harga-harga, dan desakan untuk reformasi.
Baca Juga: Kisah Menyegarkan Coca Cola
Ratusan mahasiswa lainnya juga melakukan demonstrasi di halaman kampus Universitas Sanata Dharma Yogyakarta dan kampus IKIP Negeri Yogyakarta.
Menjelang sore hari, mereka berniat bergerak menuju kampus UGM, namun dihadang oleh aparat keamanan.
Bentrokan pun tak terhindarkan. Pada pukul 17.00 WIB, bentrokan meletus. Ratusan aparat keamanan membubarkan demonstrasi dengan kasar, disertai tembakan gas air mata dan semprotan air.
Baca Juga: Perang Pasifik dan Pengarugnya Pada Politik dan Ekonomi Dunia.
Mahasiswa dan masyarakat melawan dengan batu, petasan, dan bom molotov. Aparat keamanan memukuli siapa saja yang ada di lokasi, termasuk pedagang kaki lima dan penduduk setempat.
Bentrokan ini berlangsung hingga malam hari, dengan latar suara letusan senjata api dan teriakan orang-orang yang berusaha menyelamatkan diri.