BI Rate Naik Agresif Jadi 5,75%, Nilai Tukar Rupiah Hari Ini Diprediksi Tetap Loyo di Kisaran Rp17.840

photo author
Dedy Dagomes Manlesu, Sulut Zone
- Sabtu, 20 Juni 2026 | 22:29 WIB
BI Rate Naik Agresif Jadi 5,75%, Nilai Tukar Rupiah Hari Ini Diprediksi Tetap Loyo di Kisaran Rp17.840 (AI)
BI Rate Naik Agresif Jadi 5,75%, Nilai Tukar Rupiah Hari Ini Diprediksi Tetap Loyo di Kisaran Rp17.840 (AI)

MANADO, SULUTZONE.COM – Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan masih berada di bawah tekanan berat pada perdagangan Jumat (19/6/2026). Sentimen negatif eksternal dan domestik masih membayangi mata uang garuda, meskipun Bank Indonesia (BI) telah mengambil langkah agresif dengan kembali menaikkan suku bunga acuan.

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memproeksikan mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif sepanjang hari ini namun tetap berpotensi ditutup melemah. Ia memperkirakan pergerakan rupiah hari ini berada di kisaran Rp17.790 hingga Rp17.840 per dolar AS.

Sebelumnya, pada penutupan perdagangan Kamis (18/6/2026), rupiah tercatat melemah 0,18% atau terdepresiasi 32 poin ke level Rp17.794 per dolar AS. Pada saat yang sama, keperkasaan mata uang Paman Sam yang tercermin dari indeks dolar AS (DXY) menguat 0,26% ke posisi 100,34.

BI Naikkan Suku Bunga Dua Kali dalam Sebulan

Menyikapi volatilitas yang tinggi, Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 18-19 Juni 2026 akhirnya memutuskan untuk menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,75%.

Langkah ini diikuti dengan kenaikan suku bunga Deposit Facility sebesar 25 bps menjadi 4,75%, serta suku bunga Lending Facility sebesar 25 bps menjadi 6,50%.

Kenaikan ini merupakan jurus kedua bank sentral dalam kurun waktu kurang dari satu bulan, setelah sebelumnya pada Senin (9/6/2026) BI telah mengerek BI-Rate sebesar 25 bps menjadi 5,50%. Total kenaikan dalam kurun waktu singkat ini mencapai 75 basis poin demi meredam outflow (aliran modal keluar) asing yang deras di pasar modal sepanjang tahun berjalan.

"Kenaikan ini sebagai langkah lanjutan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah, serta sebagai langkah pre-emptive untuk menjaga inflasi pada tahun 2026 dan 2027 agar tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5±1% yang ditetapkan pemerintah," kata Ibrahim Assuaibi.

Rapor Merah dari MSCI dan Dampak Sentimen Global

Tekanan hebat pada pasar keuangan dalam negeri dinilai terjadi karena sikap investor yang cenderung wait and see. Salah satu pemicu utamanya adalah laporan MSCI 2026 Global Market Accessibility Review yang dirilis Kamis (18/6/2026) waktu setempat.

Meski MSCI memutuskan untuk mempertahankan status Indonesia dalam kelompok pasar negara berkembang (emerging market), penyedia indeks global tersebut memberikan catatan merah yang cukup serius terkait transparansi di pasar modal dalam negeri.

MSCI menyoroti adanya ketidakjelasan pada struktur kepemilikan saham serta indikasi perdagangan terkoordinasi (coordinated trading) yang dinilai mengganggu proses pembentukan harga yang wajar. Akibatnya, kriteria Information Flow Indonesia diturunkan dari semula bermutu positif (+) menjadi negatif (-). Kondisi ini menempatkan Indonesia bersama Turki sebagai negara yang mengalami penurunan aksesibilitas pasar tahun ini.

"Di Indonesia, kekhawatiran aksesibilitas muncul akibat berlanjutnya ketidakjelasan struktur kepemilikan saham dan adanya indikasi perilaku perdagangan yang terkoordinasi sehingga mengganggu pembentukan harga yang wajar," tulis MSCI dalam laporan resminya. Hal tersebut menyulitkan investor institusional global untuk mengukur porsi saham publik (free float) yang sebenarnya saat menyusun portofolio replikasi indeks.

Sementara dari sisi eksternal, pasar tengah memantau kelanjutan kesepakatan damai antara AS dan Iran. Deeskalasi konflik ini berhasil meredam harga minyak global yang sempat menyentuh level US$100 per barel menjadi di kisaran US$80 per barel. Bagi Indonesia yang berstatus sebagai negara net importir minyak, penurunan harga komoditas ini diharapkan dapat memperkecil belanja impor energi yang selama ini menjadi beban kronis penekan nilai tukar rupiah.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Dedy Dagomes Manlesu

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X