JAKARTA, SULUTZONE.COM — Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 yang mencapai 5,61 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) dinilai belum sepenuhnya mencerminkan kondisi fundamental yang kuat. Analis dari Menteng Kleb, Kusfiardi, mengingatkan adanya fenomena “dualisme ekonomi” yang berpotensi mengganggu stabilitas ke depan, terutama terkait nilai tukar dan daya beli masyarakat.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), capaian tersebut melampaui target APBN yang berada di kisaran 5,2 hingga 5,8 persen. Namun, di balik angka tahunan tersebut, terdapat kontraksi ekonomi sebesar 0,77 persen secara kuartalan (quarter-to-quarter/qoq), yang mengindikasikan adanya perlambatan aktivitas ekonomi setelah periode musiman.
Kontraksi Kuartalan Jadi Sinyal Awal
Kusfiardi menilai, perbedaan antara pertumbuhan tahunan dan kontraksi kuartalan perlu menjadi perhatian serius pemerintah.
"Pertumbuhan tahunan yang berdampingan kontraksi kuartalan menunjukkan adanya perlambatan aktivitas ekonomi pasca-siklus musiman. Momentum ini rentan hilang pada Kuartal II," ujar Kusfiardi.
Ia menambahkan, kondisi tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi belum sepenuhnya stabil dan masih rentan terhadap tekanan jangka pendek.
Pasar Saham Menguat, Rupiah Tertekan
Respons pasar terhadap data pertumbuhan ekonomi juga dinilai tidak seragam. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat menguat 1,22 persen ke level 7.057, mencerminkan optimisme investor terhadap kinerja emiten.
Namun di sisi lain, nilai tukar rupiah justru mengalami depresiasi hingga menyentuh Rp17.424 per dolar AS. Angka ini jauh dari asumsi APBN sebesar Rp16.500 per dolar AS, menciptakan selisih signifikan yang disebut sebagai “celah kredibilitas”.
Menurut Kusfiardi, pelemahan rupiah tersebut menunjukkan bahwa faktor global masih lebih dominan dibandingkan kondisi domestik.
Risiko Fiskal dan Tekanan Daya Beli
Lebih lanjut, Menteng Kleb mengidentifikasi sejumlah risiko yang dapat muncul akibat ketidakseimbangan ini. Salah satunya adalah potensi imported inflation, di mana pelemahan rupiah dapat meningkatkan harga barang impor dan bahan baku.
Selain itu, tekanan terhadap APBN juga diperkirakan meningkat, terutama dari sisi subsidi energi dan pembayaran bunga utang luar negeri yang sensitif terhadap pergerakan kurs.
Dampak lanjutan yang paling terasa diperkirakan terjadi pada konsumsi rumah tangga. Kenaikan harga barang berpotensi menekan daya beli masyarakat, yang selama ini menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi nasional.
Perlu Sinkronisasi Kebijakan
Artikel Terkait
Di Bawah Kepemimpinan YSK-Victory, Sulut Alami Lompatan Ekonomi dan Kesejahteraan : Makin Keren, Makin Maju!
Ekonomi Sulut Ditargetkan Tumbuh 7,7 persen di 2027, Gubernur Yulius Selvanus: Integritas Adalah Kunci
Sinergi Bupati Sitaro dan PLN: Perkuat Pasokan Listrik demi Akselerasi Ekonomi di Bumi Karangetang
Sulawesi Utara Cetak Kinerja Keuangan Solid di 2025: Ekonomi Tumbuh 5,66%, Lampaui Nasional
Purbaya Yakinkan Investor AS, Sinyal Kuat Ekonomi Indonesia Kian Dilirik Global
Prabowo dan Macron Bertemu di Paris: Perkuat Pertahanan hingga Ekonomi Kreatif
Demi Perkuat Ekonomi Kreatif, Yulius Selvanus Resmikan Galeri Dekranasda Sulut
Bertemu di Sulut, Delegasi CTI-CFF Dorong Implementasi Ekonomi Biru
Perkuat Ekonomi Kerakyatan, PLN dan Kodim 1306/Kota Palu Bersinergi Dukung 108 Koperasi Merah Putih di Sulawesi Tengah
Berdayakan Ekonomi Keluarga, Ny. Anik Yulius Selvanus Dorong Perempuan Sulut Kuasai Digitalisasi dan Legalitas UMKM