Kusfiardi menekankan pentingnya koordinasi kebijakan antara otoritas moneter dan fiskal untuk menjaga stabilitas ekonomi.
"Diperlukan sinkronisasi kebijakan yang lebih agresif antara intervensi moneter Bank Indonesia dan kebijakan fiskal pemerintah. Tanpa stabilisasi kurs yang cepat, pertumbuhan di awal tahun ini hanya akan menjadi 'puncak semu' yang segera diikuti penurunan tajam akibat tekanan biaya hidup masyarakat," pungkasnya.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa meskipun indikator makro menunjukkan pertumbuhan positif, risiko ketidakseimbangan tetap perlu diantisipasi agar tidak berdampak lebih luas pada perekonomian nasional.
Artikel Terkait
Di Bawah Kepemimpinan YSK-Victory, Sulut Alami Lompatan Ekonomi dan Kesejahteraan : Makin Keren, Makin Maju!
Ekonomi Sulut Ditargetkan Tumbuh 7,7 persen di 2027, Gubernur Yulius Selvanus: Integritas Adalah Kunci
Sinergi Bupati Sitaro dan PLN: Perkuat Pasokan Listrik demi Akselerasi Ekonomi di Bumi Karangetang
Sulawesi Utara Cetak Kinerja Keuangan Solid di 2025: Ekonomi Tumbuh 5,66%, Lampaui Nasional
Purbaya Yakinkan Investor AS, Sinyal Kuat Ekonomi Indonesia Kian Dilirik Global
Prabowo dan Macron Bertemu di Paris: Perkuat Pertahanan hingga Ekonomi Kreatif
Demi Perkuat Ekonomi Kreatif, Yulius Selvanus Resmikan Galeri Dekranasda Sulut
Bertemu di Sulut, Delegasi CTI-CFF Dorong Implementasi Ekonomi Biru
Perkuat Ekonomi Kerakyatan, PLN dan Kodim 1306/Kota Palu Bersinergi Dukung 108 Koperasi Merah Putih di Sulawesi Tengah
Berdayakan Ekonomi Keluarga, Ny. Anik Yulius Selvanus Dorong Perempuan Sulut Kuasai Digitalisasi dan Legalitas UMKM