Minahasa Utara, 19 Oktober 2025 - Ungkapan tajam yang diduga berasal dari seorang jurnalis bernama Resa S. atau ResaS, beredar luas di berbagai grup WhatsApp dan menjadi perbincangan hangat, terutama di kalangan pemerhati politik dan sosial Sulawesi Utara (Sulut).
Ungkapan tersebut merupakan sindiran telak yang ditujukan kepada mantan Gubernur dan Gubernur Sulut saat ini, menyoroti persoalan integritas dan kompetensi pejabat di lingkungan birokrasi daerah.
Dalam sindiran yang dinarasikan ulang oleh Taufik M. Tumbelaka, seorang pengamat dari luar sistem, ungkapan tersebut berbunyi:
* "Leader kemarin menciptakan Pejabat Munafik dan Korup".
* "Leader sekarang mempertahankan Pejabat Produk Gagal."
Baca Juga: Catatan Kecil Untuk Duet Yulius Selvanus - Victor Mailangkay dalam Memimpin Sulut
Pesan kuat dari sisi politik ini, menurut Taufik M. Tumbelaka, mencerminkan adanya pandangan dan rasa yang sama di masyarakat terkait kondisi birokrasi Sulut. Tumbelaka sendiri mengakui bahwa ia merasa terdorong untuk menulis mengenai hal ini karena memiliki pandangan yang sejalan dengan "Sang Kuli Tinta" tersebut.
Tumbelaka menyoroti bahwa dalam logika sosial dan politik, seorang pemimpin cenderung memilih orang-orang yang setia dan sejalan. Namun, ia menekankan pentingnya pemimpin untuk memiliki kejernihan dalam memilih birokrat berdasarkan niat baik untuk membangun Sulut, bukan sekadar terjebak pada kesetiaan buta.
"Untuk itu perlu diseleksikan para sosok birokrat yang mempunyai 4 poin: Leadership, Kepekaan, Integritas, dan Kompetensi," tulis Tumbelaka dalam narasinya.
Ia juga mengingatkan tentang bahaya "oknum-oknum birokrat yang punya hobby aneh, 'menjilat keatas, menginjak kebawah,'" yang pada akhirnya menghasilkan "Birokrat dan Pejabat toxic yang cenderung munafik (plus penjilat) serta bermental korup." Kondisi ini disebutnya sebagai malapetaka bagi daerah dan masyarakat luas.
Baca Juga: Kritik Tajam Taufik Tumbelaka ke Polda Sulut : Penanganan Kasus Korupsi Kominfo Sulut Jalan Ditempat
Tumbelaka menyambungkan isu ini dengan konsep pembangunan dan politik yang memanusiakan, seperti “Humanizing Development” dan “Humanizing Politics”, di mana semua bermuara pada cita-cita suci "Membangun Peradaban."
Ia secara terbuka mempertanyakan motivasi para pemimpin: "Apa motivasi sesorang ketika ingin jadi seorang Pemimpin??"
Mengakhiri narasinya, Taufik M. Tumbelaka berharap bahwa semangat seorang pemimpin adalah untuk pengabdian, bukan sekadar penyaluran "hobby, libido politik dan memenuhi nafsu esteem and status... dan diatas itu semua adalah untuk Memperkaya Diri."
Sebagai orang di luar sistem, Tumbelaka hanya bisa berharap yang terbaik akan terwujud untuk Tanah Leluhur, Sulawesi Utara. (Dedy/Red)
Artikel Terkait
Melihat Lebih Dekat Kebijakan E10: Langkah Menuju Energi Bersih atau Tantangan Baru?
Menelisik Kasus Mahasiswa Unud: dari Tragedi Kematian hingga Ucapan Nir-Empati di Dunia Maya
Ammar Zoni Dipindahkan ke Nusakambangan, Pengacara Sebut Ada Hal Janggal hingga Bandingkan dengan Koruptor
Kemenkes: MBG Bantu Atasi Stunting hingga Perbaikan Kualitas Gizi Anak Indonesia
IFG Dukung Gelaran AAUI Bali Rendezvous 2025, Dorong Kolaborasi dan Transformasi Industri Asuransi
Akun "Acid Suruan Pantow" Dituding "Maling Teriak Maling" Terkait Lahan Tambang Ratatotok
"Batik Magic dan Art Plating": ARYADUTA Manado, Sekolah Murid Merdeka, dan Gramedia Kolaborasi Inspiratif Kenalkan Budaya Lewat Seni dan Rasa
BPK RI Gendeng Pemkab Talaud, Tingkatkan Akuntabilitas Pelayanan Kesehatan Daerah"
Gebrak Kebangkitan Ekonomi Desa: Bupati Talaud Pimpin Ground Breaking KDMP, Serentak Diresmikan Presiden
Catatan Kecil Untuk Duet Yulius Selvanus - Victor Mailangkay dalam Memimpin Sulut