Vatikan, Umat Kristen dan Budha Harus Bersama Membangun Perdamaian

photo author
Stefanus Goni, Sulut Zone
- Rabu, 8 Mei 2024 | 03:50 WIB
Ilustrasi. (Pixabay)
Ilustrasi. (Pixabay)

SulutZone.com - Pada artikel ini akan memfokuskan pada pesan penting yang disampaikan oleh Prefek Dikasteri Dialog Antaragama kepada umat Buddha saat perayaan Waisak dan pesan ini juga ditujukan kepada umat Kristen.

Dilansir dari Vatikannews.com, pesan tersebut adalah: "Umat Kristen dan Budha harus berjalan bersama demi perdamaian". Pada kesempatan Waisak tersebut, Kardinal Ayuso menekankan pentingnya tanggung jawab bersama antara umat Kristen dan Buddha dalam memupuk perdamaian, rekonsiliasi, dan ketahanan.

Hal ini merupakan bagian dari pesan bertajuk “Umat Kristen dan Budha: Bekerja Sama untuk Perdamaian melalui Rekonsiliasi dan Ketahanan” yang dirilis pada hari Senin, (06/05/2024).

Baca Juga: Kata Paus Soal Peran Gereja Tentanga Pasangan

Dalam pesan tersebut, beliau merefleksikan bagaimana ajaran kedua tradisi tersebut menyoroti perlunya upaya kolaboratif dalam menyembuhkan luka kemanusiaan dan bumi.

Dengan melihat eskalasi konflik yang terjadi di seluruh dunia, Kardinal Ayuso mengutip permohonan abadi Paus St. Paulus VI, “Jangan pernah lagi perang, jangan pernah lagi perang,” sebagai pengingat penting tentang peran kita dalam menciptakan perdamaian.

Namun, perdamaian bukanlah sesuatu yang dapat dicapai dengan mudah. Menurut Kardinal Ayuso, mencapai perdamaian memerlukan usaha keras dari semua pihak.

Baca Juga: Berjuang Merebut Tiket Olimpiade 2024! Berikut Jadwal Timnas Indonesia U 23 VS Guinea U 23.

Hal ini mencakup upaya memperkuat komitmen kita dalam mengupayakan rekonsiliasi dan ketahanan.

Rekonsiliasi dan ketahanan bukanlah konsep yang sederhana. Ini memerlukan pengakuan bahwa rekonsiliasi sejati tidak dapat terjadi tanpa mengatasi penyebab utama konflik dan beliau menekankan pentingnya kesetaraan dan keadilan dalam bidang politik, ekonomi, dan budaya.

Mengutip Desmond Tutu, Uskup Agung Anglikan Afrika Selatan yang memimpin proses “Kebenaran dan Rekonsiliasi” di negaranya, Kardinal Ayuso mengingatkan kita bahwa pengampunan dan rekonsiliasi bukan berarti berpura-pura bahwa segalanya baik-baik saja.

Baca Juga: Timnas Indonesia U-23 Berjuang Hadapi Tantangan Singkat Menuju Playoff Olimpiade 2024

Rekonsiliasi sejati menyingkapkan kebenaran tentang keburukan, pelecehan, penderitaan, degradasi, dan kebenaran.

Namun, ketika pengampunan dicari dan hubungan yang rusak diperbaiki, harmoni bisa dipulihkan. Ini membuka jalan untuk sinergi kuat yang dapat menyembuhkan luka dan menjalin ikatan, yang menawarkan harapan untuk masa depan yang lebih cerah dan memberdayakan individu untuk menghadapi tantangan hidup dengan ketabahan dan optimisme.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Stefanus Goni

Sumber: Vatikan News

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X