SULUTZONE.COM – Jagat media sosial tengah dihebohkan dengan beredarnya tangkapan layar percakapan grup daring yang diduga berisi para orang tua mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FH UI).
Hal ini mencuat tak lama setelah pengungkapan kasus dugaan pelecehan seksual yang menyeret 16 mahasiswa di kampus tersebut.
Alih-alih memberikan dukungan penuh terhadap proses hukum dan keadilan korban, isi percakapan tersebut justru menuai kecaman publik karena dinilai cenderung melindungi terduga pelaku dengan dalih "khilaf" dan menjaga masa depan.
Menilai Kampus Menjadikan Kasus 'Bola Liar'
Berdasarkan unggahan akun Instagram @creativox pada Rabu, 15 April 2026, narasi yang beredar menunjukkan adanya upaya dari para orang tua untuk menahan proses penanganan kasus yang melibatkan anak-anak mereka.
Dalam tangkapan layar yang viral, sejumlah anggota grup tampak menyesalkan langkah pihak yang mengungkap skandal ini ke publik. Mereka menilai transparansi kasus ini justru merugikan nama baik keluarga.
"Andai saja si penyebar lebih bijak, tidak langsung menyebarkan seperti ini," tulis salah satu anggota grup dalam tangkapan layar tersebut.
Pernyataan lain pun muncul dengan menyebut bahwa pengungkapan ini telah membuat situasi menjadi tidak terkendali. "Kalau sudah tersebar seperti ini, jadinya bola liar. Semua pihak bisa kena imbasnya," bunyi pesan lainnya.
Baca Juga: Wujudkan Pengelolaan Sampah Modern, Pemprov Sulut Percepat Pembangunan Fasilitas PSEL Manado Raya
Mohon Kebijaksanaan: "Namanya Anak Muda, Kadang Khilaf"
Bagian yang paling memicu amarah warganet adalah permintaan agar pihak kampus tidak memberikan sanksi tegas berupa Drop Out (DO). Para orang tua tersebut berharap kampus hanya memberikan pembinaan, bukan hukuman yang dapat memutus studi anak mereka.
"Mohon kebijaksanaan pihak kampus, jangan sampai anak-anak ini di-DO. Kasihan masa depan mereka," tulis salah satu pesan yang beredar.
Bahkan, ada anggota grup yang menormalisasi tindakan tersebut sebagai bentuk kekhilafan masa muda. "Namanya juga anak muda, kadang khilaf. Jangan langsung dihukum berat," ungkapnya.
Peran Orang Tua Jadi Sorotan
Kasus yang mencuat pada sidang internal kampus Selasa, 14 April 2026 ini, kini bergeser menjadi diskusi luas mengenai pola asuh dan tanggung jawab keluarga. Banyak pihak menilai bahwa dukungan keluarga seharusnya berpihak pada kebenaran dan keadilan korban, bukan justru menutupi kesalahan dengan alasan sentimen pribadi.
"Dukungan keluarga seharusnya tidak menutup ruang keadilan, melainkan mendorong penyelesaian yang jujur, berpihak pada korban, dan memberi efek pembelajaran agar kasus serupa tidak terulang," tulis narasi dalam postingan @creativox.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada klarifikasi resmi dari pihak FH UI maupun perwakilan orang tua mahasiswa terkait keabsahan tangkapan layar percakapan grup yang beredar luas tersebut.
Artikel Terkait
Kedua Orang Tua jadi Korban Banjir, Dea Pianaung Dapat 100 Juta dari Menteri PKP : Bupati Chyntia Salurkan Langsung
Sinergi Bupati Sitaro dan PLN: Perkuat Pasokan Listrik demi Akselerasi Ekonomi di Bumi Karangetang
Sulawesi Utara Cetak Kinerja Keuangan Solid di 2025: Ekonomi Tumbuh 5,66%, Lampaui Nasional
Terobosan Menteri Maruarar Sirait: Skema KPR Rusun Subsidi Kini Bisa 30 Tahun, Harga Jual di Jakarta CS Resmi Naik
Negara Hadir untuk Dea: Bupati Sitaro Serahkan Bantuan Pendidikan Rp100 Juta dari Menteri Maruarar Sirait
Menteri PKP Maruarar Sirait Gebrak Sulut: Program 3 Juta Rumah Fokus pada MBR dan ASN Muda
Raih Predikat Platinum di Nusantara CSR Awards 2026, Bukti Nyata PLN Suluttenggo Memimpin Dalam Transisi Energi
Elnusa Petrofin Pastikan Distribusi BBM Sulut Aman Pasca-Kecelakaan Mobil Tangki di Munte
Kehilangan Kendali di Tanjakan Munte, Truk Tangki BBM Terguling dan Tumpahkan 16.000 Liter Solar
Wujudkan Pengelolaan Sampah Modern, Pemprov Sulut Percepat Pembangunan Fasilitas PSEL Manado Raya